April 02, 2019
BY Hidayah Sulistyowati
36 Comments
Masjid Selat Melaka Malaysia, Favorit untuk Hunting Foto Saat Senja
Assalamualaikum Sahabat. Masjid Selat Melaka Malaysia Menjadi Tempat Hunting Foto Saat Senja. Saya baru tahu ketika sudah tiba di lokasi dan banyak juga orang yang menanti senja sambil ngobrol dengan teman seperjalanannya.
Jadi ini adalah artikel ketiga dari serangkaian cerita Traveling Malaysia bareng teman-teman blogger.
Baca yuk : Traveling Malaysia #1 Cek In Tiket Promo di Bandara Soetta
Saya lanjutkan ceritanya dari perjalanan naik grab pesanan yang mengantar ke homestay di kawasan jalan Kesidang. Nama homestay yang kami tinggali selama satu malam di Melaka adalah B'Your Home. Tempatnya bersih meski kayaknya jarang ditinggali atau disewa. Kayaknya bangunan lama yang abis diperbaiki. Jadi aroma lembab terasa sekali. Saya pun menyalakan kipas angin untuk mengusir bau lembab. Pendingin udara juga tetap saya nyalakan.
Homestay ini rate nya cukup murah, per kamar sekitar 95RM (350 ribu rupiah)/malam. Saya dan suami sekamar dong, begitu pula Vita dan suaminya, Anas. Sementara mba Dian satu kamar dengan Mara, sama-sama lajang sih. Homestay ini udah dibooking sejak bulan Februari 2019.
Yang jagain homestay udah ngasih kunci kamar kepada Mara, yang udah datang duluan. Rupanya dia kelelahan nungguin kami dengan jalan-jalan sendiri di kawasan Gereja Merah. Jadi saat kami tiba di homestay, dia tengah terlelap. Udah digedor-gedor sama Vita, dan ternyata salah kamar. Kamar yang ditempati Mara ada di sebelahnya lagi. Wkwkwkk.
Kasihan sih, anaknya masih ngantuk makanya susah dibangunkan. Tapi kami butuh istirahat dan mandi. Sebelum sore nanti jalan-jalan ke Masjid Melaka dan nyari makan di dekat Gereja Merah.
Saya tuh kebiasaan kalo nginap di hotel, pasti suka bongkar-bongkar tas bawaan. Bukannya istirahat tapi ngatur baju mana yang akan dipakai hari ini. Suami sampai nyuruh saya berhenti dan tiduran sebentar biar ntar sore kuat jalan lagi untuk melihat suasana Melaka yang eksotik.
Eh baru juga rebahan bentar, ada info dari Mara kalo kami bakal ngumpul untuk jalan ke Masjid Melaka 20 menit lagi.
Masya Allah, belum mandi dan mata juga mulai ngantuk. Tapi chat Mara di WA grup bikin kantuk terhempaskan.
"Ayo kalo bisa jam 6 udah nyampe Masjid Melaka, biar dapat view sunset,"
Huwaaa, baca chat tersebut bikin saya semangat. Lelah dan kantuk hilang seketika. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 17.40 waktu setempat. Di Malaysia, pukul 6 malam suasana di luar ruangan masih terang benderang.
Saya berlari sambil ngambil handuk yang udah disediakan di atas kasur. Tapi sebelumnya saya balas chat di grup kalo saya dan suami mandi dulu sebelum jalan-jalan keluar homestay.
Masjid Selat Melaka ini terletak di Bandar Hilir, menghadap selat Melaka Malaysia. Menurut wikipedia, masjid ini terletak di selat terpanjang di dunia.
Letaknya di pinggir laut, mengapung gitu sih. saya jadi teringat dengan Masjid Terapung di Jeddah, Arab Saudi. Saya pernah berkunjung ke Masjid Terapung saat ibadah haji tahun 2014.
Jadi saya merasa dejavu meski bangunan masjid Selat Melaka dengan Masjid Terapung di Jeddah sangat lah beda.
Saya cerita tentang selat Melaka dulu ya. Bagaimana kecantikan selat ini mampu mempengaruhi orang-orang untuk berkunjung. Bukan hanya muslim yang berkunjung kesini. Namun banyak juga wisatawan non muslim yang datang di sini. Jadi kawasan Masjid ini seperti wisata sejarah.
Mobil yang mengantar kami berhenti di halaman masjid yang luas. Sisi kanan masjid terdapat menara. Sementara sisi kiri terdapat kios makanan dan cindera mata.
Bagian sisi kiri (dari arah pengunjung datang), juga merupakan akses menuju lokasi kece untuk mengambil foto sunset.
Jadi Mara udah lari duluan membawa kamera serta tripodnya. Saya pun mengikuti. Sementara rombongan kami lainnya masih asik foto selfie di depan masjid.
Saya sempat mampir foto di bangunan kosong, yang rimbun oleh ilalang kering.
Di sepanjang tepi laut, terdapat tembok penahan gelombang. Dengan batu gunung berukuran besar terletak di pinggir dinding penahan gelombang. Di sini lah tempat orang-orang menanti sunset sambil ngobrol dan ngemil makanan ringan. Saya sempat foto-foto dengan suami, juga teman-teman serombongan.
Ketika matahari terlihat dengan warna jingga yang cantik, saya terpesona. Terdiam. Menatap matahari yang bulat cantik. Lama kelamaan matahari mulai samar dan sesekali tertutup awan putih. Beberapa tangan mulai memotret kecantikan sang surya yang mulai samar. Suara petir terdengar dari jauh.
Saya juga nggak mau kalah, ikutan selfi dalam temaram senja.
Saya menyimpan sandal di tempat yang sudah disediakan di dekat koridor yang menghubungkan selat Melaka dan masjid. Ada rak tingkat untuk meletakkan sandal atau sepatu jemaah masjid. Ruang penyimpanan sandal dan sepatu ini bisa menampung dalam jumlah banyak.
Seperti masjid di Arab Saudi, tempat wudhu wanita di masjid ini lokasinya juga tertutup dari pandangan bukan muhrim. Jadi jemaah wanita bisa nyaman dan bebas membuka hijabnya untuk mengambil air wudhu. Toilet tempatnya terpisah dan terletak di samping tempat wudhu.
Setelah wudhu, kami mengambil tempat di dalam masjid yang diperuntukkan jemaah wanita untuk shalat. Sebelum memasuki ruangan shalat, terdapat tempat penjualan minuman dengan sistem kejujuran. Tak ada yang jaga, jadi yang ingin membeli minuman tinggal memasukkan uang seharga boto minuman air mineral yang yang murah. Air mineral di sini harganya 1 RM.
Mara justru memilih minuman yang ada di mesin pendingin. Di mesin sini harganya nggak berbeda meski ada berbagai pilihan minumannya. Kami mampir membeli minuman di sini usai shalat. Saya sih pilih air mineral yang ada di rak di samping mesin minuman berpendingin.
Waktu shalat Maghrib usai, ada pengumuman kalo akan ada pengajian menyambut datangnya malam 1 Rajab. Tepat seperti yang saya baca di papan pengumuman di depan masjid.
"Wah, harusnya kita dengerin tausiyah nya, mumpung sedang di masjid," cetus mba Dian.
"Tapi bisa sampe malam dong, dan perut udah kelaparan,"
Bener sih, maksud hati pengen ikutan pengajian mumpung di masjid yang jauh dari kampung halaman. Kapan lagi coba kami bisa dengerin tausiyah dengan bahasa Melayu. Namun panggilan untuk mengisi perut wajib ditunaikan.
Sebelum meninggalkan masjid, kami sempat foto dengan nuansa yang berbeda. Ada kerlip lampu yang menghiasi malam di Masjid Selat Melaka Malaysia. Cantik, syahdu, temaram, pengen deh kesini lagi suatu hari nanti.
Silahkan baca : Terbang Bersama Garuda ke Malaysia
Dari masjid ini kami memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalan ke kawasan sungai Melaka. Di sana ada beberapa bangunan bersejarah. Kami sepakat memesan grab lagi. Dan tarifnya murah karena lokasi dekat dari tempat kami.
Dari masjid ke sungai itu hanya dikenakan tarif 10 RM. Sharing cost gini enak sih, jatuhnya murah. Kami masing-masing cukup bayar 1,5 RM. Saya dan suami hanya membayar 3 RM, murah ya.
Cerita traveling dan berkunjung di Masjid Selat Melaka Malaysia udah usai. Kelanjutan cerita traveling Malaysia akan saya lanjutkan di artikel berikutnya. Rencananya saya akan menulis tentang kuliner kami selama traveling di Malaysia. Ditunggu yaaa, Sahabat. Wassalamualaikum.
Baca yuk : Traveling Malaysia #1 Cek In Tiket Promo di Bandara Soetta
Saya lanjutkan ceritanya dari perjalanan naik grab pesanan yang mengantar ke homestay di kawasan jalan Kesidang. Nama homestay yang kami tinggali selama satu malam di Melaka adalah B'Your Home. Tempatnya bersih meski kayaknya jarang ditinggali atau disewa. Kayaknya bangunan lama yang abis diperbaiki. Jadi aroma lembab terasa sekali. Saya pun menyalakan kipas angin untuk mengusir bau lembab. Pendingin udara juga tetap saya nyalakan.
Homestay ini rate nya cukup murah, per kamar sekitar 95RM (350 ribu rupiah)/malam. Saya dan suami sekamar dong, begitu pula Vita dan suaminya, Anas. Sementara mba Dian satu kamar dengan Mara, sama-sama lajang sih. Homestay ini udah dibooking sejak bulan Februari 2019.
Yang jagain homestay udah ngasih kunci kamar kepada Mara, yang udah datang duluan. Rupanya dia kelelahan nungguin kami dengan jalan-jalan sendiri di kawasan Gereja Merah. Jadi saat kami tiba di homestay, dia tengah terlelap. Udah digedor-gedor sama Vita, dan ternyata salah kamar. Kamar yang ditempati Mara ada di sebelahnya lagi. Wkwkwkk.
Kasihan sih, anaknya masih ngantuk makanya susah dibangunkan. Tapi kami butuh istirahat dan mandi. Sebelum sore nanti jalan-jalan ke Masjid Melaka dan nyari makan di dekat Gereja Merah.
Mandi dan Istirahat di Homestay B'Your Melaka Malaysia
![]() |
| Kamar saya, kompliit ada kamar mandi dalam, air mineral, TV |
Masya Allah, belum mandi dan mata juga mulai ngantuk. Tapi chat Mara di WA grup bikin kantuk terhempaskan.
"Ayo kalo bisa jam 6 udah nyampe Masjid Melaka, biar dapat view sunset,"
Huwaaa, baca chat tersebut bikin saya semangat. Lelah dan kantuk hilang seketika. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 17.40 waktu setempat. Di Malaysia, pukul 6 malam suasana di luar ruangan masih terang benderang.
Saya berlari sambil ngambil handuk yang udah disediakan di atas kasur. Tapi sebelumnya saya balas chat di grup kalo saya dan suami mandi dulu sebelum jalan-jalan keluar homestay.
Menyusuri Selat Melaka Malaysia dan Melihat Kecantikan Suasana Senja
Begitu rombongan siap, Mara segera memesan grab. Di Malaysia sini nyari Grabcar gitu gampang. Dan biayanya juga murah karena kami sharing cost. Dari homestay di jalan Kesidang menuju Masjid Selat Melaka, hanya bayar 12 RM (Rp. 44.400). Ini juga masih dibagi 6 orang, jadi masing- masing iuran 2 RM atau Rp. 7,400.Letaknya di pinggir laut, mengapung gitu sih. saya jadi teringat dengan Masjid Terapung di Jeddah, Arab Saudi. Saya pernah berkunjung ke Masjid Terapung saat ibadah haji tahun 2014.
Jadi saya merasa dejavu meski bangunan masjid Selat Melaka dengan Masjid Terapung di Jeddah sangat lah beda.
Saya cerita tentang selat Melaka dulu ya. Bagaimana kecantikan selat ini mampu mempengaruhi orang-orang untuk berkunjung. Bukan hanya muslim yang berkunjung kesini. Namun banyak juga wisatawan non muslim yang datang di sini. Jadi kawasan Masjid ini seperti wisata sejarah.
Mobil yang mengantar kami berhenti di halaman masjid yang luas. Sisi kanan masjid terdapat menara. Sementara sisi kiri terdapat kios makanan dan cindera mata.
![]() |
| Menara di bagian halaman masjid |
Bagian sisi kiri (dari arah pengunjung datang), juga merupakan akses menuju lokasi kece untuk mengambil foto sunset.
Saya sempat mampir foto di bangunan kosong, yang rimbun oleh ilalang kering.
![]() |
![]() |
| Foto bersama rombongan |
Saya juga nggak mau kalah, ikutan selfi dalam temaram senja.
Kisah Masjid Selat Melaka Malaysia
![]() |
| Penampakan Masjid Selat Melaka ketika senja, eksotis dan anggun |
Masjid Selat Melaka Malaysia ini pembangunannya menelan biaya hingga RM 11 juta. Berdiri di atas tanah seluas 1,8 hektar dan memiliki bentuk bangunan yang diadopsi dari Timur Tengah dan Melayu. Masjid ini termasuk masih baru karena dibangun pada bulan Juni 2003 hingga selesai bulan Agustus 2006.
Saat itu peresmiannya dilakukan oleh Yang di-Pertuan Agong, Tuanku Syed Sirajuddin Ibni Al-Marhum Tuanku Syed Putra Jamalullail ketika itu, tanggal 24 Nopember 2006. Masji ini mampu menampung sekitar 2 ribu jemaah saat shalat berjamaah.
Shalat di dalam masjid ini terasa khusyuk, saya berasa sedang di negeri Arab. Ada juga ruang perpustakaan yang ada di serambi depan.
Masjid Selat Melaka ini selalu menjadi kunjungan wajib wisatawan dari manca negara. Di samping bentuk bangunannya yang mirip masjid-masjid di Timur Tengah. Juga karena menyaksikan pemandangan sunset yang menawan. Ketika saya dan rombongan menanti babang Grab, ada rombongan wisatawan yang turun dari bus besar. Sepertinya mereka berasal dari negeri Asia, entah dari Korea atau Tiongkok.
Masjid yang didominasi warna putih ini terlihat anggun kala waktu terang. Dan ketika malam datang, berubah eksotis dengan lampu yang berpendar di setiap sudut bangunannya.
Nah, untuk menaranya itu bukan diperuntukkan untuk memperdengarkan suara adzan semata. Menara yang tingginya sekitar 30 meter itu memiliki kedudukan yang penting. Yaitu sebagai tempat untuk mengarahkan kapal-kapal yang melewati selat Melaka.
Selat Melaka ini merupakan selat dengan kesibukan yang padat. Jadi wajar sih kalo menara masjid ini memiliki fungsi sebagai mercu suar untuk kapal yang lewat. Juga menjadi panduan bagi pesawat terbang yang melintas di kawasan itu.
Shalat Maghrib Pada Malam 1 Rajab 1440 H di Masjid Selat Melaka Malaysia
Karena tidak ingin telat ikut jemaah shalat Maghrib, kami bergegas ke tempat wudhu. Saya sekilas membaca pengumuman yang ditulis di papan tulis. Isi pengumuman adalah akan ada pengajian menyambut datangnya bulan Rajab.Saya menyimpan sandal di tempat yang sudah disediakan di dekat koridor yang menghubungkan selat Melaka dan masjid. Ada rak tingkat untuk meletakkan sandal atau sepatu jemaah masjid. Ruang penyimpanan sandal dan sepatu ini bisa menampung dalam jumlah banyak.
Seperti masjid di Arab Saudi, tempat wudhu wanita di masjid ini lokasinya juga tertutup dari pandangan bukan muhrim. Jadi jemaah wanita bisa nyaman dan bebas membuka hijabnya untuk mengambil air wudhu. Toilet tempatnya terpisah dan terletak di samping tempat wudhu.
Setelah wudhu, kami mengambil tempat di dalam masjid yang diperuntukkan jemaah wanita untuk shalat. Sebelum memasuki ruangan shalat, terdapat tempat penjualan minuman dengan sistem kejujuran. Tak ada yang jaga, jadi yang ingin membeli minuman tinggal memasukkan uang seharga boto minuman air mineral yang yang murah. Air mineral di sini harganya 1 RM.
![]() |
| Mara sedang mengambil minuman yang dipilihnya |
Waktu shalat Maghrib usai, ada pengumuman kalo akan ada pengajian menyambut datangnya malam 1 Rajab. Tepat seperti yang saya baca di papan pengumuman di depan masjid.
"Wah, harusnya kita dengerin tausiyah nya, mumpung sedang di masjid," cetus mba Dian.
"Tapi bisa sampe malam dong, dan perut udah kelaparan,"
Bener sih, maksud hati pengen ikutan pengajian mumpung di masjid yang jauh dari kampung halaman. Kapan lagi coba kami bisa dengerin tausiyah dengan bahasa Melayu. Namun panggilan untuk mengisi perut wajib ditunaikan.
Sebelum meninggalkan masjid, kami sempat foto dengan nuansa yang berbeda. Ada kerlip lampu yang menghiasi malam di Masjid Selat Melaka Malaysia. Cantik, syahdu, temaram, pengen deh kesini lagi suatu hari nanti.
![]() |
| Foto lagi abis shalat Maghrib kesannya masjidnya kayak terapung |
![]() |
| @Marasoo sedang foto kece |
Silahkan baca : Terbang Bersama Garuda ke Malaysia
Dari masjid ini kami memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalan ke kawasan sungai Melaka. Di sana ada beberapa bangunan bersejarah. Kami sepakat memesan grab lagi. Dan tarifnya murah karena lokasi dekat dari tempat kami.
Dari masjid ke sungai itu hanya dikenakan tarif 10 RM. Sharing cost gini enak sih, jatuhnya murah. Kami masing-masing cukup bayar 1,5 RM. Saya dan suami hanya membayar 3 RM, murah ya.
Cerita traveling dan berkunjung di Masjid Selat Melaka Malaysia udah usai. Kelanjutan cerita traveling Malaysia akan saya lanjutkan di artikel berikutnya. Rencananya saya akan menulis tentang kuliner kami selama traveling di Malaysia. Ditunggu yaaa, Sahabat. Wassalamualaikum.












