November 21, 2018
BY Hidayah Sulistyowati
84 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Pesona Dieng telah menjerat seluruh panca inderaku. Ini kedatangan saya yang keempat hanya di tahun 2018. Keren yak? Sebegitunya saya terpesona dengan kecantikan alam Dieng, hingga kesini lagi.
Suatu hari ada percakapan tertulis di WAG.
"Enaknya kemana ya weekend nanti?"
Beberapa usulan pun meluncur dari setiap anggota grup. Ada yang mengusulkan jalan-jalan ke Kabupaten Semarang, Karimun Jawa, Pantai di kawasan Jepara, hingga Dieng.
Iseng saya kumat.
"Awas loh, hati-hati kalo ke Dieng"
Pertanyaan pun meluncur bergantian. Beberapa menanyakan maksud tulisan saya.
"Iyaaa, hati-hati aja kalo ke Dieng"
"Mengapa sih mba?"
"Karena kalo kamu udah ke Dieng sekali, susah move on. Pasti kamu akan kembali lagi dan lagi, dan lagi"
Dan benar sih komentar yang saya tulis di WAG. Dari sejak awal kenal alam Dieng tahun 1992 hingga tahun 2018 ini, saya nggak bisa menghitung sudah berapa kali berkunjung kesini.
"Wohhhh, kirain kenapa?" sambil pasang emoticon ngakak.
Dan tanggal 16 Nopember yang lalu, saya kembali berkunjung ke Dieng. FYI, ini adalah kunjungan saya yang keempat di Dieng hanya dalam waktu 1 tahun terakhir. Kali ini saya mengikuti Famtrip Banjarnegara, bersama blogger Jawa Tengah dan Media Online, serta Jurnalis TV.
Pesona Dieng dan Alam Banjarnegara
Dari kota Semarang, saya berangkat numpang mobil Gus Wahid. Bersama kami ada Nia dan mba Ika yang selama ini sering menjadi teman seperjalanan bila diundang wisata di desa wisata Jawa Tengah.Perjalanan kami menuju kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara berjalan lancar. Titik pertemuan seluruh peserta Famtrip Banjarnegara di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara.
Jadi rencananya, mobil Gus Wahid akan diparkir di halaman kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara. Dari sana kami akan pesan Grabcar untuk menuju ke lokasi trip.
Dan kami terlambat karena dari Semarang juga udah jam 8 lebih. Jadinya kami nyusul menuju D'Qiano, titik pertemuan berikutnya dengan menggunakan grabcar.
Perjalanan menuju kawasan Dieng kali ini melintasi daerah Karangkobar. Kalian yang suka update berita, pasti tahu atau paling tidak pernah mendengar daerah ini.
Karangkobar merupakan rangkaian perbukitan dengan topografi tanah yang mudah bergeser. Jalan berkelok dan naik turun sepanjang jalur Banjarnegara - Karangkobar - Pejawaran - Dieng.
Namun saya justru menyukai jalur berkelok-kelok seperti ini. Terlebih sepanjang jalan mata kami bertaut dengan keindahan alam Karangkobar. Rimbunnya pepohonan, ladang milik warga setempat, menjadi pemandangan yang tak membosankan.
Setelah kurang lebih dua jam dalam perjalanan dan beberapa kali bertanya, mobil yang kami tumpangi mulai masuk kawasan Dieng.
Oiya, kami sempat ketinggalan rombongan dan tidak mampir dulu di D'Qiano. Nggak apa sih karena di penginapan ini cuma makan siang.
Jadi kami segera menyusul ke trip berikutnya yaitu Candi Arjuna.
Eksotisnya Komplek Candi Arjuna
![]() |
| Foto ini saya ambil saat berkunjung bersama keluarga pada tanggal 15 Juli 2018, pukul 5.30 mengejar embun es |
Rupanya kami nggak mampu mengejar rombongan Famtrip Banjarnegara. Karena dari pantauan perbincangan di WAG, rombogan mulai memasuki Pendopo Soeharto - Whitlam.
Namun karena saya udah beberapa kali berkunjung ke komplek Candi Arjuna, boleh dong cerita sedikit ya.
Komplek Candi Arjuna terletak di dataran tinggi Dieng. Kawasan ini tak pernah sepi pengunjung meski bukan hari libur. Saya berkunjung kesini dengan beragam rombongan. Dari keluarga kecil kami, keluarga besar, teman kantor dari dua rombongan yang berbeda, sampai teman reuni SMP.
Dan saya bisa ngambil kesimpulan :
"Sesering apapun kamu berkunjung ke Dieng, nggak bakal bosan. Karena kamu bisa berkunjung dengan teman perjalanan yang berbeda. Juga melihat lokasi wisata di Dieng dari sudut mata yang berbeda. Keindahannya akan terus kamu temukan. Sepanjang segenap panca inderamu selalu terbuka lebar untuk menemukan keindahan yang baru"
Untuk memasuki kawasan Candi Arjuna ini tiap pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 15 ribu. Tiket ini bisa digunakan untuk mengunjungi komplek Candi Arjun dan Kawah Sikidang.
Komplek Candi Arjuna tak hanya tentang bangunan candi. Namun ketika berjalan, di sisi kanan terdapat komplek Dharmasala. Di sini juga terdapat dua sendang, yaitu Sendang Maerakaca dan Sendang Sedayu.
Saya pernah mendengar cerita saat bulan Juli 2018, mengikuti ritual pemotongan rambut gimbal di Telaga Cebong. Bahwa dari Sendang Sedayu ini lah, airnya diambil untuk jamasan sebelum ritual pemotongan rambut gimbal.
Memasuki kawasan candi, pengunjung mendapatkan pinjaman sarung kotak-kotak hitam putih. Bisa dipakai menjadi sarung sebelum memasuki gerbang candi.
Komplek Candi Arjunan juga terdapat beberapa situs candi lainnya. Model bangunannya membentuk deretan.
Di sisi timur terdapat Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Di bagian barat terdapat satu candi yang tersisa, yaitu Candi Semar.
Setiap kali berkunjung ke komplek Candi Arjuna, saya tak pernah bosan menatap pemandangan yang mengelilinginya. Deretan pohon cemara, bunga terompet, dan tanaman lainnya, bikin betah pengunjung.
![]() |
| Pict. by Pak Chaerudi |
Cukup dengan duduk di rumput, dan menatap seputar komplek candi bikin hati menjadi damai. Terlebih udara sejuk sesekali berhembus. Menyentuh, mengusap segenap indera.
Indera penglihatan ini menjadi jernih menatap hijau daun yang tumbuh subur. Indera penciuman pun jadi bersih karena alam yang masih terjaga keasriannya. Indera peraba ini bahkan mampu menyentuh permukaan embun bila berkunjung pagi hari. Seperti yang saya alami bulan Juli lalu.
Dari cerita teman blogger Famtrip Banjarnegara, usai kunjungan ke komplek Candi Arjuna, mereka beranjak ke Pendopo Soeharto, Whitlam.
Selama ini mana saya tahu kalo pendopo ini ternyata pernah menjadi saksi sejarah negri Indonesia?
Bangunan seluas 80 meter persegi ini terletak dekat dengan komplek Candi Arjuna. Pada tahun 1974, sekitar tanggal 6 September terjadi pembahasan antara Presiden Republik Indonesia, Bapak Soeharto dengan Perdana Mentri Australia, Grough Whitlam.
Mereka membahas tentang Timor Timur. Tapi ini masih butuh catatan tertulis untuk mengetahui kebenarannya. Mungkin itu yang membuat bangunan ini disebut Pendopo Soeharto - Whitlam.
Dari depan pendopo ini lah, saya dan teman-teman blogger dari Semarang bergabung dalam rombongan Famtrip Banjarnegara.
Kencan Sejenak Dengan si Lincah Kawah Sikidang
Begitu menaiki bus, ada kotak snack yang mampu mengusir lapar. Sebenarnya sebelum tiba di komplek candi, sopir ojek online kami sempat menawarkan untuk mampir makan siang. Namun kami tak ingin ketinggalan rombongan lagi untuk bergabung dalam trip berikutnya.Senangnya saat bisa bertemu dan mengikuti perjalanan menuju trip berikutnya. Kawah Sikidang ini memiliki cerita sendiri dalam hidup saya.
Sekitar tahun 1992 saya pernah berkunjung ke Kawah Sikidang. Dan lokasinya itu terletak dekat dengan jalan setapak yang saat ini terdapat warung-warung.
Kemudian setelah kawah, terdapat area luas yang tandus dan berwarna putih. Bila kaki menginjak di atas tanah itu, seperti empuk dan bisa mantul-mantul gitu.
Dulu saya sempat terselip rasa khawatir. Bila tanah yang tengah saya injak ini longsor ke dalam. Bisa kalian bayangkan dong, saya akan jatuh ke dalamnya.
Namun logika saya menyeret angan untuk berpikir jernih. Namanya tempat wisata, tentu bila berbahaya tidak akan dibuka untuk umum.
Nah, kemarin kami sempat menggunakan masker karena bau belerang begitu kuat berhembus. Bagi yang kuat sih nggak pakai juga nggak masalah. Karena masker saya pun hanya menggantung di leher. Sesekali aja saya gunakan, kalo ada yang merokok, haahahaa.
![]() |
| Pict. by Ika Puspita |
Dari bibir kawah, kita bisa melihat lompatan-lompatan kecil sampai agak besar. Karena suka melompat dan berpindah lokasinya ini, dianggap mirip hewan Kijang. Karena itu lah kawah ini dinamakan Kawah Sikidang.
Bisa saja suatu hari nanti, lokasi kawah akan berpindah dari lokasi saat ini. Siapa yang tahu, kan?
Kalian wajib loh mampir kesini kalo udah nyampe Dieng. Tiket terusan dari kunjungan ke Candi Arjuna bisa digunakan untuk masuk kawasan ini.
![]() |
| Pict by Ika Puspita |
Desa Wisata Dieng Kulon Yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Famtrip berlanjut menuju Desa Wisata Dieng Kulon. Di sini ada Mas Alif yang menjadi Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Pandawa.
Mas Alif mengajak kami menyusuri perkampungan yang dekat dengan lokasi komplek Candi Arjuna. Di desa ini terdapat homestay yang siap menerima pengunjung lokasi wisata di Dieng.
Di salah satu homestay yang kami kunjungi, bahkan terdapat paket komplit bila ingin menginap di sana. Sekar Jagad Homestay ini menjadi pusat pembuatan kerajinan lukis kayu. Ruang tamu homestay menjadi tempat mereka memamerkan karya berupa hiasan lukis di atas kayu dari tangan sang pemilik homestay.
Terus terang saya takjub dengan hasil karya mereka. Bagi orang awam seperti saya, susah kayaknya melukis di atas kayu.
Saya sempat mengambil gambar beberapa lukisan di atas kayu tersebut. Semua terlihat menarik dan unik. Beberapa teman blogger bahkan ikut melukis, namun medianya diganti kardus.
Butuh ketelatenan ya untuk melukis di atas permukaan kayu gini. Enggak bisa asal melukis tapi emang butuh kesabaran. Apalagi kalo salah coret, kan jadi nggak bagus, hahahaa.
Saya sendiri nggak pede ikut melukis. Mending ngambil gambar kamar-kamar homestay yang disewakan aja. Sambil berbincang dengan pemilik rumah.
Dari dalam kamar saya mendengar Mas Alif bercerita tentang konsep desa wisata. Menurut Mas Alif, Desa Wisata bisa disebut seperti itu karena ada tiga hal pokok. Yaitu Something to See, Something to Do, Something to Buy.
Coba deh kalian nginap di homestay di Dieng Kulon, pemandangan yang cantik akan tersaji sejauh mata menatap. Bangun pagi menatap langit yang biru dengan perbukitan dan ladang penduduk, seakan surga yang gampang kita nikmati. Ini merupakan konsep Something to See.
Something to Do adalah dengan mengikuti paket nginap dan kegiatan pemilik homestay, mulai dari bangun pagi dan berjalan ke kebun. Ikut menyiangi rumput liar di kebun, pasti menjadi sensasi wisata yang bakal mengendap dalam hati kalian.
Atau bisa juga sekedar berjemur dan menikmati vitamin D gratis yang luar biasa hangatnya. Kalo pun udara dingin sesekali menyentuh permukaan kulit, nggak bakal bikin kedinginan. Karena ada sajian teh panas serta Tempe Kemul.
Nah, konsep Something to Buy bisa menjadi kegiatan bagi pengunjung untuk membeli hasil karya warga desa. Seperti ukiran, lukisan di atas kayu, sebagai oleh-oleh dan kenang-kenangan dari Desa Wisata Dieng Kulon.
Atau bisa juga membeli oleh-oleh makanannya yang beragam. Yaitu Carica dan Terong Belanda yang dikemas dalam wadah plastik. Manisan ini berkhasiat banyak.
Seperti Terong Belanda yang katanya bisa untuk menurunkan tensi dan kolesterol.
Ada toko oleh-oleh yang sudah lama ada di dekat tempat bus rombongan parkir. Di sana tersedia Carica dan Terong Belanda yang dijadikan manisan, Purwoceng, dan beragam oleh-oleh lainnya khas Banjarnegara.
Melempar Batu di Sumur Jalatunda
![]() |
| Gerbang menuju Sumur Jalatunda Pict by Gus Wahid |
Kunjungan hari pertama Famtrip Banjarnegara 2018 adalah di Sumur Jalatunda. Saya sempat shalat dulu sebelum menaiki tangga yang jumlahnya puluhan itu.
Saya dan keluarga juga pernah berkunjung di Sumur Jalatunda ini sekitar tahun 2014.
Kemarin saya tertawa menyaksikan teman-teman seperjalanan yang menghitung anak tangga saat naik dan turun. Katanya, hasil hitungan mereka saat naik dan turun tidak sama.
Sumur Jalatunda dulunya merupakan lubang kepundan yang mengalami letusan dahsyat. Sehingga menjadi sebuah sumur dengan kedalaman 100 meter dan diameter luasnya 90 meter.
Msyarakat setempat meyakini bahwa siapa yang berhasil melemparkan batu tiga kali berturut-turut dan mengenai tebing di seberang, keinginannya akan terwujud.
Bermalam di D'Qiano Sambil Berendam di Kolam Air Panas
Senja mengantarkan perjalanan kami berikutnya menuju ke D'Qiano Hot Spring Waterpark Dieng. Di penginapan yang terletak dekat dengan Kawah Sileri in lah kami akan bermalam.Udara dingin mulai merambat permukaan kulit. Saya masih bisa menahan dingin di kulit. Hanya bau belerang memang masih mengantarkan perjalanan ini.
Saya bersama teman perempuan mendapatkan kamar nomer 7. Terdapat dua lantai dengan lantai 1 ada kamar untuk dua orang dan kamar mandi dalam, serta ruang tamu.
Namun kami berlima, yaitu Ery, blogger Purbalingga, Gita blogger dari Banjarnegara memilik gabung dengan kami di lantai 2. Kami tinggal nyeret kasur satu untuk menambah fasilitas tidur di lantai 2 yang hanya untuk 4 orang.
Cerita selengkapnya akan saya tuliskan pada artikel selanjutnya ya. Terlalu panjang kalo ditulis di sini semua. Nantikan ya cerita tentang D'Qiano dan juga makan malam yang mengenyangkan. Wassalamualaikum.










