My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Banjarnegara
Tampilkan postingan dengan label Banjarnegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banjarnegara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2018

Rafting di Sungai Serayu Tanpa Kecebur, Mana Seruuu?
Desember 14, 2018 45 Comments

 Rafting di Sungai Serayu

Assalamualaikum Sahabat.  Rafting di Sungai Serayu Tanpa Kecebur? Mana seruuu? Iya, saya meminjam ucapan Ibu Moris, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, sesaat beliau terjatuh dari perahu karet.

Saya terkejut menyaksikan tubuh ibu Moris terlempar dari perahu karet saat rafting di Sungai Serayu. Terlebih perahu yang ditumpanginya sudah melewati tubuhnya. Kemudian saya melihat salah seorang pemandu melemparkan tali bantuan pada ibu Moris.

Beruntunglah sebelum rafting menyusuri Sungai Serayu dimulai, sudah ada briefing tentang keselamatan selama di sungai.

Ya, siang usai menjelajahi wisata Banjarnegara di tengah kota, bus mengantar rombongan Famtrip menuju The Pikas. 

Baca Artikel di sini : Destinasi Wisata Banjarnegera di Tengah Kota

Di lokasi sudah ada beberapa pemandu yang menunggu kedatangan kami. Salah seorang pemandu menjelaskan, kami bisa ganti pakaian untuk rafting terlebih dulu.

Setiap peserta juga diharuskan mengenakan pakaian untuk keselamatan selama rafting, seperti jaket pelampung dan helm. 



Saya segera mempersiapkan pakaian ganti beserta perlengkapan mandi. Rencananya pakaian ganti peserta famtrip akan dititipkan di mobil milik kantor Disbudpar yang ada di parkiran The Pikas.

Dan tentu saja satu kegiatan yang tidak boleh ketinggalan, adalah foto bersama. Hahahaa.






Sekilas Mengenal The Pikas Resort & Artventure

The Pikas Resort & Artventure terletak di Desa Kutayasa Kecamatan Maukara Kabupaten Banjarnegara. Kalian bisa menikmati adventure seperti rafting. Atau ingin menginap di cottage, dan tentunya menyicipi menu di restoran.

Fasilitas lain yang ingin kalian coba ada outbond, paintball, yang tentu memiliki keistimewaan masing-masing.

Rafting di Sungai Serayu bersama The Pikas menjadi momen tak terlupakan. The Pikas memiliki tiga operator rafting. Namun kemarin saya ditemani tour guide dari Banyuwong Adventure. 

Nah, untuk harga paket rafting nggak mahal kok. Kalian bisa memilih paket harga mulai dari Rp. 150.000 sampai 245.000 per orang. Tentunya tarif rafting ini disesuaikan dengan jarak kilometernya.

Dan kalo kalian abis rafting merasa capai, ngantuk, dan pengen nginap di The Pikas, bisa loh booking dahulu. Harga cottage berkisar dari Rp. 450.000 untuk 2 orang. Sampai Rp. 1.000.000 untuk 7 orang. Saya sempat nginap semalam di cottage bersama teman-teman blogger Jawa Tengah. Eh masih ditambah seorang teman baru, staff kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara, yaitu Vivi.

Nah, Vivi ini yang menjadi teman satu perahu saya saat rafting menyusuri Sungai Serayu.


Sungai Serayu Yang Senang Merayu

Saya teringat ketika masih berusia 11 tahun dan diajak mengunjungi rumah famili di Banyumas. Saat melintasi jembatan, mata saya terpagut pada arus deras sungai di bawahnya. Seakan-akan arus air Sungai Serayu merayu-rayu, memanggil saya untuk sekedar mencelupkan jemari tangan. 

"Itu sungai apa, arusnya deras ya?"
"Itu sungai Serayu. Kamu jangan bermain air di sana, bahaya,"
"Bahaya gimana?"
"Kamu bisa tenggelam kalo main air di Serayu,"

Percakapan dua arah antara ibu dan saya terhenti. Ibu tahu saya senang kalo diajak ke desa salah seorang famili dan bertemu sungai. Maklum deh saya lahir dan besar sebagai anak kota besar. Dan baik ibu maupun bapak, tidak memiliki desa. 

Jadi ketika ada acara kondangan di rumah salah seorang famili yang berada di desa, saya pasti diajak. Karena saya sangat senang kalo diajak ke desa. Meski untuk itu saya harus berdesak-desakan di dalam bus yang penuh penumpang dan melaju kencang.

Selama ini saya selalu menemukan sungai dengan arus yang biasa, airnya dangkal ataupun nggak begitu dalam, jernih, dan tidak berbahaya. 

Beda dengan Sungai Serayu, yang tiap kali saya melintasi jembatan di atasnya, selalu berwarna coklat, arusnya deras, dan membentang lebar memisahkan dua daratan.

Sungai Serayu atau yang dulu dikenal dengan sebutan Ci Sarayu, adalah salah satu sungai di Jawa Tengah. Membentang dari timur laut ke barat daya sejauh 181 km. Sungai ini melintasi lima kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, dan kabupaten Cilacap. (dikutip dari https://id.m.wikipedia.org/)

Hulu sungai Serayu berada di lereng Gunung Prau di wilayah Dieng, Wonosobo. Mata airnya dikenal sebagai Tuk Bima Lukar atau mata air Bima Lukar. Dan saya belum sempat mengunjungi Tuk Bima Lukar ini. Next time harus kesini pasti. Semoga saya diberi rejeki sehat, berkah berlimpah dari penghasilan ngeblog, jadi bisa ke Dieng lagi. Amiinkan yaa. 

Sungai Serayu memiliki anak sungai seperti salah satunya adalah kali Tulis. Ada juga kali Klawing dengan anak sungai yang berhulu di Gunung Slamet. 

Oiya, kemarin waktu rafting, saya heran dengan adanya aliran sungai yang bertemu seperti di pertigaan. Cerita Vivi, sungai itu (maaf saya lupa namanya) konon katanya airnya bertemu namun tidak menjadi satu. Jadi masing-masing sungai memilih mengalir balik ke arah yang berbeda. Unik ya. 

Sungai Serayu menjadi sumber kehidupan bagi penduduk yang tinggal di wilayah lima kabupaten. Selama ini dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian, PLTA, dan wisata. Salah satunya adalah wisata rafting atau arung jeram.


Rafting di Sungai Serayu Yang Seru

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, yang menjadi operator rafting adalah Banyuwong Adventure. Senang loh dipandu oleh Banyuwong Adventure. Mereka profesional menjalankan tugasnya sebagai pemandu, pendamping, dan pengawas selama kami arung jeram. 

Dari The Pikas yang berada di desa Madukara, kami diajak naik mobil angkot yang mengantarkan ke lokasi rafting di desa Sigaluh Banjarnegara.

Di sini kami diminta untuk membentuk barisan dengan kelompok beranggotakan 4 hingga 6 orang. Setiap kelompok memang diharapkan tidak melebihi jumlah 6 peserta. Nantinya tiap kelompok akan ditambah dengan pemandu dari The Pikas. Kemarin kami terbagi menjadi enam rombongan dengan 6 kapal tentunya.


Pengarahan dan Petunjuk Keselamatan dari Pemandu

Setelah kami siap, seorang pemandu memberikan penjelasan keselamatan yang harus kami perhatikan dengan baik. Karena petunjuk keselamatan ini penting banget, Sahabat.

Petunjuk Keselamatan Rafting di The Pikas :

- Setiap kelompok harus kompak dan mengikuti arahan dari pemandu di perahu masing-masing.

- Peserta rafting diharuskan mengenakan jaket pelampung, topi helm, dan dayung. Masing-masing perlengkapan ini memiliki fungsu yang penting. Jaket pelampung juga harus dipakai sesuai ukuran badan. Mengikat tali tidak boleh kendor atau terlalu erat. Helm pun harus dikaitkan dan berbunyi "plup".

- Ada dayung maju, untuk mengarahkan perahu melaju ke depan. Ada juga dayung mundur, ketika perahu berbalik arah dan menabrak dinding tebing di pinggir sungai.

- Namanya juga rafting di sungai, bisa saja kecebur dan jatuh ke sungai. Jadi ketika masuk ke dalam sungai, lebih baik pasrah. Tapi jangan pasrah trus diam aja. Karena oleh pemandu atau teman seregu akan menarik kita dari sungai. Caranya adalah dengan mengangkat pelampung dari arah belakang. Dan tangan kita memegang erat jaket pelampung bagian dada.

Yang pasti sih selama arung jeram harus menuruti komando dari pemandu. Di suruh apa aja harus menurut. Kalo disuruh nyebur ke sungai? Mau aja kalo kalian pengen basah-basahan dari ujung rambut sampai kaki, hahahaa.


Rafting di Sungai Serayu Mau? Ayo aja!

Sebelum memulai rafting, seluruh peserta berdoa agar selama perjalanan menyusuri sungai selalu dalam perlindungan Tuhan.   

Satu persatu peserta arung jeram menaiki perahu. Satu persatu perahu mulai menyusuri sungai Serayu. Air masih berarus tenang. Tapi kalo air tenang itu kata peribahasa menghanyutkan ya. Nah, justru saya takutnya malah air tenang gini. Biasanya air tenang itu kedalamannya juga bermeter-meter.


Rafting di Sungai Serayu

Karena Banjarnegara udah dua hari nggak diguyur hujan, debit air sungai Serayu kurang deras. Lihat aja foto di bawah ini. Batu-batu ukuran kecil terlihat di mana-mana.


Rafting di Sungai Serayu


Sungai Serayu sangat cocok dijadikan tempat berpetualang arung jeram. Arusnya yang deras dengan banyaknya batu ukuran besar dan sedang di dasar sungai, membentuk jeram dari yang grade kecil hingga besar.

Perahu saya memulai masuk jeram pertama. Saya lupa namanya. Yup, beberapa jeram di sini memiliki nama. Ada nama jeram menggunakan nama mantan Bupati Banjarnegara. Namanya adalah Jeram Djasri.


Rafting di Sungai Serayu

Rafting di Sungai Serayu

Rafting di Sungai Serayu

Yang paling asik itu ketika perahu sukses mengantar kita melintasi jeram. Jeritan, tawa kencang, teriakan mampu mengusir rasa kaget ketika perahu bertabrakan dengan jeram.

Belum lagi usai menabrak jeram, kadang bikin tubuh perahu berputar arah 180 derajat. Nah, ini kadang-kadang bikin salah satu penumpang tercebur ke dalam sungai. Dagdigdug dooonk! Hahahaa.


Rafting di Sungai Serayu


Dari jeram ini lah bu Moris tiba-tiba terjatuh ke air. Sempat terpisah agak jauh dari perahu yang ditumpanginya. Dan perahu saya yang ada di dekat, ikut membantu dengan melemparkan tali untuk pertolongan keselamatan. 

Cara menggunakannya adalah dengan mengalungkan tali ke bagian ketiak, jangan di leher ntar bahaya ketika ditarik. 

Kemudian ketika bu Moris sudah mendekati perahu, tubuhnya memunggungi perahu dan seorang mengangkat jaket pelampung bagian belakang. Oh iya, sebelumnya tubuh bu Moris dicelupkan satu kali ke dalam sungai, baru diangkat.

Apa coba ucapan bu Moris begitu sudah duduk manis di atas perahu?

"Nggak jatuh nggak seruuuuu."

Kami yang mendengar seruan bu Moris serempak tertawa geli. Eh tapi saya sempat menjawab sih

"Bu, nggak jatuh tetap seru kok," ucap saya.

Sumpah saya nggak mau jatuh ke dalam sungai Serayu. Kebayang nggak sih sungai yang kedalamannya sampai enam meter gitu, duhhh. 

Tapi saya merasa aman arung jeram di Sungai Serayu. Apalagi ada pemandu yang sangat profesional.



Rafting di Sungai Serayu

Terlebih ketika mulai terlihat jeram panjang udah tampak dari jauh. Tim rescue segera mendahului kami. Mereka menjadi pembuka jalan dan mencari jalur yang aman namun tetap seru dan menegangkan.

Apa asiknya arung jeram tanpa merasakan ketegangan detik-detik sesaat sebelum menjumpai jeram dengan grade 3 plus.

Nah, saatnya kami melintasi jeram panjang dengan grade 3 plus. Dayung mulai ditegakkan, lihat di foto. Posisi saya dan Vivi, duduk di dasar perahu. Agar tetap aman meski perahu digoyang oleh jeram.


Rafting di Sungai Serayu

Rafting di Sungai Serayu
Saya dan Vivi nyaris nggak terlihat 
Saya udah berteriak dan tertawa kegirangan. Masya Allah, it's wonderful Indonesia. Indahnya ciptaan Allah, Sahabat.


Rafting di Sungai Serayu
Sesaat usai dari jeram panjang dengan grade tiga plus
Tetap tertawa, merasa asik dan seru

Saya sempat jatuh ke dalam sungai juga. Tapi bukan yang di lokasi jeram panjang. Setelah beberapa ratus meter dari jeram panjang ini, di salah satu jeram yang kami lintasi.


Saya melihat batu besar dan merasa seakan habis ini ada sesuatu terjadi. Dan benar sih, ketika saya merasa aman, dan melepaskan tangan dari tali yang menjadi pegangan selama melintasi jeram. Tiba-tiba saja saya terjatuh.

Sempat ada yang menolong. Namun karena saya tidak memegang erat jaket di bagian bahu, tangan penolong pun terlepas. Katanya dia juga ikut jatuh ke dalam sungai.

Sempat ada rasa takut kalo saya tenggelam. Namun saya ingat sudah mengenakan jaket pelampung. Namun ketakutan berada di dalam air muncul. Saya mencoba berdiri dan merasakan sedalam apakah dasar sungai di bawah tubuh saya. Ketika kaki saya menyentuh dasar sungai, hati saya merasa aman. Oke lah kalo kaki masih bisa menapakkan di dasar sungai. Paling enggak dalamnya sekitar 1,5 meter. 

Tapi kan arusnya kencang. Dan saya merasakan air Sungai Serayu yang dingin. Huhuhuuu, saya nggak mau berlama-lama di air.

Akhirnya ketika ada penolong yang mengangkat jaket saya, tangan seketika memegang erat jaket di bagian dada. Tentunya kali ini sukses mengangkat tubuh ke atas perahu.

"Eh bener juga apa kata Bu Moris. Kalo nggak jatuh itu nggak seru, hahahhaa,"

Ucapan saya jadi bikin teman-teman satu perahu tertawa ngakak.


Rafting Sungai Serayu

Setelah kejadian itu, kami masih melintasi beberapa jeram lagi. Namun tidak sebesar jeram panjang yang kami lintasi di pertengahan jalan.

Dan ketika pemandu bercerita bahwa setelah jembatan di depan mata itu, adalah finish arung jeram, saya bahagia. Hahahahaa.



Rafting di Sungai Serayu


Rasanya ingin banget mendayung sekuat tenaga. Agar kami menjadi peserta pertama yang mencapai finish. Dan memang dua perahu yang saling berlomba ingin mencapai garis finish pertama kali, saling mendayung secepatnya.

Senangnya ketika udah mencapai pinggir sungai. Karena ada kelapa muda dan mendoan yang sudah menanti kedatangan kami. Perut kenyang bikin kami enggan bangkit dari duduk di batu pinggir jalan.

Namun waktu shalat sudah memanggil. Tubuh basah kuyub juga butuh mandi dan berganti baju yang kering agar tidak masuk angin. Apalagi dikabarkan pula bahwa makan siang menanti kami. Bergegas kami membersihkan diri dan ganti pakaian. Makan siang terasa begitu nikmat di lidah dan perut saya. Saya duduk bersama Ery di pinggir dekat sungai. 

Kalian udah penah rafting di Sungai Serayu? Kalo belum, buruan segera ke The Pikas Resort & Artventure. Nikmati sensasi mendayung di aliran sungai Serayu yang berarus deras ini. Jadinya baru kali ini saya arung jeram tapi nggak merasakan lengan pegel karena mendayung. Karena arus sungai yang kencang sudah mendorong perahu kami melaju lancar. Yuk adventure arung jeram di Sungai Serayu. Rasakan juga keseruan saat kecebur di air, hihii. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Kamis, 13 Desember 2018

Destinasi  Wisata Banjarnegara di Tengah Kota
Desember 13, 2018 40 Comments
Wisata Banjarnegara
Picture by Jujun

Assalamualaikum Sahabat. Destinasi  Wisata Banjarnegara di Tengah Kota ini, wajib kamu masukkan dalam itinerary liburan. Dengan menggunakan waktu sehari, kami akan keliling kota Banjarnegara. 

Nah, saya mau pengakuan dosa, karena selama ini menganggap Dieng merupakan bagian dari kota Wonosobo. 

Ternyata anggapan saya itu salah besar kawan!

Dieng itu merupakan daerah yang sebagian besar masuk dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara. Jadi kalo kalian mengunjungi Kompleks Candi Arjuna dan teman-temannya, Kawah Sikidang, Telaga Balekambang, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Kawah Candradimuka, dan Sumur Jalatunda, itu bagian dari Wisata Banjarnegara.

Sebenarnya masih banyak wisata Banjarnegara lainnya. Nanti setelah artikel ini, saya akan menuliskannya satu persatu. Sabar ya, bulan Nopember hingga Desember ini saya banyak kegiatan.

Baca artikel tentang Dieng : Pesona Dieng Telah Menjerat Panca Indera Saya

Jadi ceritanya setelah wisata di kawasan Dieng, dan menginap di D'Qiano semalam. Sambil menikmati berendam air panas, bagi yang mau aja sih. Karena saya malas berendam seluruh badan. Cuma kaki aja, qiqiqii. Kami akan melanjutkan wisata Banjarnegara hari kedua. Rencananya sih wisatanya di kota Banjarnegara seharian.


Wisata Banjarnegara
Fasilitas D'Qiano,
Hot Spring Waterpark
Lanjut dulu ya dengan berendam air panas, tapi saya enggak. Cukup deh duduk di gazebo dengan bekal segelas teh panas yang pasti cepat dingin karena udara Dieng yang dinginnya udah terkenal seantero nusantara. Sambil ngobrol bareng Ery, teman blogger yang tinggal di Purbalingga.

Karena udara Dieng mulai menusuk tulang, saya mengajak Mba Ika kembali ke Kamar. Bersama kami ada juga Ery yang ingin segera memeluk selimut di kamar.


Saya, dan teman-teman blogger Jateng.
Ada mba Ika, Nia, Gita, dan Ery
Kayaknya kami ingin segera menutup mata, beristirahat. Namun kewajiban sebagai blogger enggak hanya menuliskan kisah perjalanan. Tapi juga blog walking atau berkunjung di blog milik sesama blogger. Saya habiskan waktu sambil menanti kantuk menjemput, untuk blog walking dulu. Tak lebih dari dua jam, mata saya terasa berat. Kantuk menyeret secepat datangnya mimpi.


Janji Menjemput Matahari Yang Terlambat

Wisata Banjarnegara
Sunrise di Bukit Pangongan
Jam 4 pagi, bahkan adzan Shubuh belum terdengar, mata saya sudah tak mau lagi terpejam. Saya segera menyingkirkan selimut. Kamar mandi di lantai atas cuma 1. Kalo tidak mandi sekarang, bakal berebutan nih. Alhamdulillah ada fasilitas air panas kalo kalian nginap di D'Qiano.

Setelah mandi dan shalat Shubuh, saya duduk santai menanti teman-teman bergantian membersihkan tubuh.

Setelah rombongan siap, Bapak Chaerudin mengajak kami segera masuk ke dalam bus. Pagi ini cuma 1 bus yang akan membawa kami ke bukit Sipandu. Eh salah, bukan Bukit Sipandu. Karena matahari sudah terbit di ufuk timur, kami diarahkan menuju bukit pengganti, yaitu Bukit Pangongan.

Saya udah membayangkan trekking ke atas bukit. Saya menganggap diri ini mampu lah jalan ke bukit. Kan pernah naik ke pos 1 Gancik hill Top. 

Ternyata perjalanan trekking lumayan juga. Setelah tanjakan pertama yang tak seberapa sepanjang, sekitar 100 meter, kami bertemu jalan datar. Di sini saya menjumpai pipa-pipa yang mengalirkan gas. FYI, di Dieng terdapat sumur gas yang dialirkan dalam pipa-pipa dan dikumpulkan dalam sumur besar. Kemudian dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi.

Dari sini kami melewati lorong di bawah pipa besar, menuju perbukitan dengan tanaman Kentang. Saya menatap ke arah atas, bukit dengan treking menanjak 45 derajat


Wisata Banjarnegara
Petani dan kebun kentang 
Ketika tiba di kebun Kentang, napas saya sudah ngos-ngosan. Jantung pun bedegup kecang. Saya teringat suami yang detakan jantungnya cepat ketika kena serangan jantung. Duhhh, saya jadi galau. 

Hutan sudah di depan mata. Saya ingin melanjutkan perjalanan karena ada iming-iming bakal menyaksikan padang savana yang cantik di puncak bukit.

Namun saya sadar diri, saat ini bukan waktu yang tepat untuk naik hingga puncak bukit. Baiklah. Dieng ... nanti saya akan kembali ke sini, mengajak anak-anak dan ponakan menuju Padang Savana.

Kebetulan saat itu muncul Kang Wahid, teman blogger dari Semarang. Kami memilih duduk di jalan kecil yang plester semennya mulai rusak di beberapa tempat. Kemiringannya pun bikin saya memilih duduk menyesuaikan dengan posisi plesteran semen.

Di kanan dan kiri kami adalah kebun kentang. Duduk sambil menatap pada dataran yang lebih rendah nun jaun di sana, mata saya menatap Candi Arjuna yang terlihat mungil.

Candi Arjuna tepat berada di bawah
jari telunjuk saya

Saya terdiam meresapi suasana dan udara kawasan Dieng yang sejuk menenangkan. Rasanya duduk saja di sini udah bikin hati damai. Terlepas sejenak dari suasana kota yang semrawut dengan lalu lintas jalan.  Bebas dari suara percakapan yang tak mau kalah satu sama lain. Mata saya terpejam ingin menikmati sejenak aura hening di kebun kentang Bukit Pangongan.

Perut mulai menagih janji sarapan, entah minum teh atau kopi dengan cemilan. Saya dan Kang Wahid berniat mencari warung yang udah buka pukul 7 pagi. Kali ini jalanan yang kami susuri menurun. Enak sih kalo jalan pulang, dan karena kami nggak mengikuti peserta Famtrip yang lain ke atas bukit. Jadi jalan pulang cukup cepat.

Namun sampai di lokasi parkir, hanya ada warung dengan pintu tertutup. Seorang ibu tengah membersihkan sesuatu di depan warung.  Ada baskom besar yang berisi potongan buah yang sudah dikupas. 

"Ini apa sih, Bu?"
"Buah Carica, Mbak,"
"Oh Ibu mau masak Carica. Wah aku mau lihat dulu ya,"  

Saya segera mengikuti Ibu Nur masuk ke dalam dapur warungnya. Di sana saya menemukan panci berukuran besar yang tengah memasak air gula. Udara panas menyergap saya. Di warung bagian depan, terdapat lemari yang memajang hasil produksi Carica merk Segar.   

Saya sedang belanja oleh-oleh manisan carica, saat sebagian peserta sedang berjalan menuju bus. Oke deh, abis ini saya mesti bergegas berlari masuk ke dalam bus. Udah lapar juga meski waktu di warung bu Nur udah nyicipi manisan terong Belanda. Tapi kan kurang nendaaang, hahaha.


Wisata tengah kota Serulingmas, Rekreasi Yang Mengedukasi

Sebagian peserta masih membersihkan diri, ketika saya mulai beberes barang bawaan yang makin bertambah. Iya, kami mendapat hadiah dari sponsor, panitia Dieng Future Culture, dan beberapa pihak yang ikut mendukung Famtrip Banjarnegara 2018.  

Sebelum melanjutkan kegiatan hari kedua Famtrip Banjarnegara, kami sarapan di resto D'Qiano. Sarapannya nasi goreng plus telur. Dan Tempe Kemul tetep dong nggak ketinggalan, selalu ada dalam setiap kesempatan makan. Senangnyaaa.


Nginap di D'Qiano
Tempe Kemul nggak ketinggalan, ada di nampan
Perjalanan menuju Serulingmas dengan 2 bus yang membawa blogger dan media, melintasi daerah Karang Kobar menuju Banjarnegara. Ahhh, saya yang tadinya agak ngantuk, berusaha menajamkan penglihatan. 

Panca Indera saya selalu terkagum-kagum pada deretan bukit dengan pepohonan yang rimbun. Seakan ada suara yang memanggil-manggil untuk menjelajahinya.

Seakan terhipnotis oleh keindahan alam Karang Kobar, mata saya seperti diayun oleh suara nina bobok. Udara yang mudah mengalir masuk karena pintu bus terbuka, mengalirkan kesejukan. Tubuh saya merespon dengan manja. Kantuk menyergap seketika. 

Sekitar pukul 11 seorang peserta mengumumkan bahwa tujuan kami sudah di depan mata. Kantuk yang masih bergayut erat di mata, seketika buyar. Hmmm, rasanya tidur tadi masih separo berjalan menuju alam mimpi. 

Bus langsung memasuki halaman kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara. Wisata Serulingmas terletak bersebelahan dengan kantor DisParBud ini.


Wisata Banjarnegara

Berjalan menuju depan gerbang Serulingmas, kami ditawari jalan kaki atau naik odong-odong. Serempak kami semua menjawab naik odong-odong. Hahahaaa, jelas dong kaki udah capai ya kami pilih yang nyaman aja.


Duduk manis di atas bangku odong-odong dan bersiap mendengarkan informasi dari mba Habibah, pegawai Serulingmas yang menjadi tour guide kami siang itu. Penjelasannya informatif dan menarik untuk didengarkan.


Naik Odong-odong di Serulingmas
Kelihatan mataku ngantuk

Sejarah Ringkas Serulingmas

Serulingmas Banjarnegara Interactive Zoo atau lebih dikenal dengan Serulingmas BIZ, merupakan satu-satunya tempat wisata edukasi berbentuk kebun binatang di Eks-Karisidenan Banyumas yang berlokasi di Banjarnegara.

Serulingmas BIZ disahkan pada tahun 1997 oleh MenkoPolKam, menjadi kawasan wisata bagi masyarakat.

Serulingmas BIZ saat ini tengah mengembangkan kawasan menjadi satu destinasi wisata edukasi utama dengan fasilitas yang komplit. Di sini terdapat 41 jenis koleksi satwa, yang terdiri dari 18 jenis mamalia, 18 jenis aves, dan 5 jenis reptil.


Wisata Banjarnegara
Tempatnya teduh dengan pepohonan yang terjaga

Saya terlampau kagum dengan pengelola yang pintar merawat hewan di Serulingmas ini. Semua binatang memiliki kandang dengan sirkulasi udara bebas. 

Anak-anak pasti senang kalo diajakin main kesini. Seperti yang tadi saya sebutkan di atas, mamalia terdapat 18 jenis. Harimau dan Singa yang berada di kandang masing-masing, tengah menikmati suasana siang yang redup. Mendung memang nampak di langit. Namun justru bikin suasana jadi syahdu, pengen bobok. Seperti Singa yang bernama Raja dan Dwi tengah gegoleran di kandangnya. Kujadi pengen bobok juga kalo gini, hahahaa. 

Binatang di sini memang memiliki nama seperti manusia. Coba saja bayangkan, ada nama-nama seperti Parno, Tuti, Noval, Martin, Starla dan April. Aduh yang lainnya saya lupa. Dan itu salah satu nama anak orang utan napa mirip-mirip anak saya? Tapi mirip ya, bukan sama loh.


Wisata Banjarnegara
Saya lupa nama orang utan ini,
Starla atau Tuti, hihiii

Di Serulingmas BIZ juga terdapat wahana yang bisa dinikmati oleh pengunjung baik berupa permainan maupun edukasi. Ada kolam renang, kereta mini, Oemah Terwelu, Rumah Edukasi, Playground, dan Flying Fox untuk anak-anak.

Di Oemah Terwelu pengunjung bisa masuk dan berinteraksi dengan kelinci yang asik berkeliaran. Pengunjung bahkan bisa memberi makan kelincinya. Anak-anak suka nih dengan kegiatan ini, Sahabat.


Picture by Jujun

Beberapa kali Serulingmas BIZ juga mengadakan event minggunan, bulanan, maupun tahunan untuk memanjakan pengunjung. Event ini biasanya menyesuaikan hari besar, hari libur lebaran, atau pun festival Serulingmas.

Saat kami tiba di sana, banyak pengunjung yang terdiri dari keluarga dan anak sekolah yang berkunjung bersama guru dan teman-temannya.

Saat kami duduk di bangku berpencar di kawasan Serulingmas BIZ, tiba-tiba ada pengumuman agar kembali masuk ke dalam bus. Wah, kami belum puas di sini.

Ternyata ada informasi kalo kami udah ditunggu untuk segera menuju ke The PIKAS. The PIKAS adalah singkatan dari nama Pinggir Kali Serayu. Kami akan diajak rafting di Sungai Serayu. 


Wisata Banjarnegara
The Pikas, tunggu kami yaaa
Rupanya daerah atas mendung pekat dan pengelola The Pikas ingin kami meluncur secepatnya. Karena kalo sudah hujan kami bisa gagal rafting.

Ya udah kami pun bergegas masuk ke bus yang membawa kami menuju The Pikas. Katanya sih jarak Serulingmas menuju The Pikas nggak begitu jauh. Kayaknya kantuk ini mesti ditahan dulu untuk dituntaskan nanti setelah usai rafting.

Sahabat bisa berkunjung ke Serulingmas BIZ dengan keluarga, teman ataupun kerabat. Ajak anak-anak ya, mereka pasti akan puas bermain dan mengekplorasi Serulingmas BIZ. Tentang kegiatan Famtrip Banjarnegara 2018, saya akan menuliskan lanjutannya dalam artikel yang berikutnya. Ditunggu ya, Sahabat. Wassalamualaikum.


Pict by Instagram
Serulingmas BIZ

Info Serulingmas BIZ :
Harga Tiket:
Senin - Jumat : Rp. 10.000
Hari Weekend/libur nasional : Rp. 15.000
Wahana Permainan : Rp. 10.000
Wahana lainnya : mulai Rp. 5.000
Foto bersama satwa : Rp. 20.000/ foto

Alamat Serulingmas :
Jl. Selamanik no 35 RT 03 Rw 04, Kutabanjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah 53415
Email : info.serulingmas@gmail.com
Telpon : 0286 - 591933 

Contact Person :
Event Organizer : 0857 2609 1155 (Alvan Jamal)
Tenant/Open Both : 0857 8620 5096 (Nur Rohmah)
Reservasi Tempat : 0857 1399 3744 (Adi Widodo)
Edukasi : 0899 6661 180 (Dwi Ardella)
Rombongan : 0857 4714 7704 (Fida Nabila)
Reading Time:

Rabu, 21 November 2018

Pesona Dieng Telah Menjerat Seluruh Panca Indera Setiap Pengunjung
November 21, 2018 84 Comments

Assalamualaikum Sahabat. Pesona Dieng telah menjerat seluruh panca inderaku. Ini kedatangan saya yang keempat hanya di tahun 2018. Keren yak? Sebegitunya saya terpesona dengan kecantikan alam Dieng, hingga kesini lagi.

Suatu hari ada percakapan tertulis di WAG.
"Enaknya kemana ya weekend nanti?"
Beberapa usulan pun meluncur dari setiap anggota grup. Ada yang mengusulkan jalan-jalan ke Kabupaten Semarang, Karimun Jawa, Pantai di kawasan Jepara, hingga Dieng.

Iseng saya kumat.
"Awas loh, hati-hati kalo ke Dieng"
Pertanyaan pun meluncur bergantian. Beberapa menanyakan maksud tulisan saya.
"Iyaaa, hati-hati aja kalo ke Dieng"
"Mengapa sih mba?"
"Karena kalo kamu udah ke Dieng sekali, susah move on. Pasti kamu akan kembali lagi dan lagi, dan lagi"

"Wohhhh, kirain kenapa?" sambil pasang emoticon ngakak.
Dan benar sih komentar yang saya tulis di WAG. Dari sejak awal kenal alam Dieng tahun 1992 hingga tahun 2018 ini, saya nggak bisa menghitung sudah berapa kali berkunjung kesini.

Dan tanggal 16 Nopember yang lalu, saya kembali berkunjung ke Dieng. FYI, ini adalah kunjungan saya yang keempat di Dieng hanya dalam waktu 1 tahun terakhir. Kali ini saya mengikuti Famtrip Banjarnegara, bersama blogger Jawa Tengah dan Media Online, serta Jurnalis TV.

Pesona Dieng dan Alam Banjarnegara

Dari kota Semarang, saya berangkat numpang mobil Gus Wahid. Bersama kami ada Nia dan mba Ika yang selama ini sering menjadi teman seperjalanan bila diundang wisata di desa wisata Jawa Tengah.

Perjalanan kami menuju kantor  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara berjalan lancar. Titik pertemuan seluruh peserta Famtrip Banjarnegara di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara.

Jadi rencananya, mobil Gus Wahid akan diparkir di halaman kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara. Dari sana kami akan pesan Grabcar untuk menuju ke lokasi trip. 

Dan kami terlambat karena dari Semarang juga udah jam 8 lebih. Jadinya kami nyusul menuju D'Qiano, titik pertemuan berikutnya dengan menggunakan grabcar. 

Perjalanan menuju kawasan Dieng kali ini melintasi daerah Karangkobar. Kalian yang suka update berita, pasti tahu atau paling tidak pernah mendengar daerah ini.

Karangkobar merupakan rangkaian perbukitan dengan topografi tanah yang mudah bergeser. Jalan berkelok dan naik turun sepanjang jalur Banjarnegara - Karangkobar - Pejawaran - Dieng.

Namun saya justru menyukai jalur berkelok-kelok seperti ini. Terlebih sepanjang jalan mata kami bertaut dengan keindahan alam Karangkobar.  Rimbunnya pepohonan, ladang milik warga setempat, menjadi pemandangan yang tak membosankan.

Setelah kurang lebih dua jam dalam perjalanan dan beberapa kali bertanya, mobil yang kami tumpangi mulai masuk kawasan Dieng.

Oiya, kami sempat ketinggalan rombongan dan tidak mampir dulu di D'Qiano. Nggak apa sih karena di penginapan ini cuma makan siang. 

Jadi kami segera menyusul ke trip berikutnya yaitu Candi Arjuna.


Eksotisnya Komplek Candi Arjuna

Foto ini saya ambil saat  berkunjung bersama keluarga
pada tanggal 15 Juli 2018, pukul 5.30 mengejar embun es

Rupanya kami nggak mampu mengejar rombongan Famtrip Banjarnegara. Karena dari pantauan perbincangan di WAG, rombogan mulai memasuki Pendopo Soeharto - Whitlam.

Namun karena saya udah beberapa kali berkunjung ke komplek Candi Arjuna, boleh dong cerita sedikit ya.

Komplek Candi Arjuna terletak di dataran tinggi Dieng. Kawasan ini tak pernah sepi pengunjung meski bukan hari libur. Saya berkunjung kesini dengan beragam rombongan. Dari keluarga kecil kami, keluarga besar, teman kantor dari dua rombongan yang berbeda, sampai teman reuni SMP.

Dan saya bisa ngambil kesimpulan :
"Sesering apapun kamu berkunjung ke Dieng, nggak bakal bosan. Karena kamu bisa berkunjung dengan teman perjalanan yang berbeda. Juga melihat lokasi wisata di Dieng dari sudut mata yang berbeda. Keindahannya akan terus kamu temukan. Sepanjang segenap panca inderamu selalu terbuka lebar untuk menemukan keindahan yang baru"

Untuk memasuki kawasan Candi Arjuna ini tiap pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 15 ribu. Tiket ini bisa digunakan untuk mengunjungi komplek Candi Arjun dan Kawah Sikidang.


Komplek Candi Arjuna tak hanya tentang bangunan candi. Namun ketika berjalan, di sisi kanan terdapat komplek Dharmasala. Di sini juga terdapat dua sendang, yaitu Sendang Maerakaca dan Sendang Sedayu. 

Saya pernah mendengar cerita saat bulan Juli 2018, mengikuti ritual pemotongan rambut gimbal di Telaga Cebong. Bahwa dari Sendang Sedayu ini lah, airnya diambil untuk jamasan sebelum ritual pemotongan rambut gimbal.

Memasuki kawasan candi, pengunjung mendapatkan pinjaman sarung kotak-kotak hitam putih. Bisa dipakai menjadi sarung sebelum memasuki gerbang candi.


Pesona Dieng

Komplek Candi Arjunan juga terdapat beberapa situs candi lainnya. Model bangunannya membentuk deretan. 

Di sisi timur terdapat Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Di bagian barat terdapat satu candi yang tersisa, yaitu Candi Semar.

Setiap kali berkunjung ke komplek Candi Arjuna, saya tak pernah bosan menatap pemandangan yang mengelilinginya. Deretan pohon cemara, bunga terompet, dan tanaman lainnya, bikin betah pengunjung. 


Pict. by Pak Chaerudi

Cukup dengan duduk di rumput, dan menatap seputar komplek candi bikin hati menjadi damai. Terlebih udara sejuk sesekali berhembus. Menyentuh, mengusap segenap indera. 


Indera penglihatan ini menjadi jernih menatap hijau daun yang tumbuh subur. Indera penciuman pun jadi bersih karena alam yang masih terjaga keasriannya. Indera peraba ini bahkan mampu menyentuh permukaan embun bila berkunjung pagi hari. Seperti yang saya alami bulan Juli lalu.

Dari cerita teman blogger Famtrip Banjarnegara, usai kunjungan ke komplek Candi Arjuna, mereka beranjak ke Pendopo Soeharto, Whitlam.

Selama ini mana saya tahu kalo pendopo ini ternyata pernah menjadi saksi sejarah negri Indonesia?

Bangunan seluas 80 meter persegi ini terletak dekat dengan komplek Candi Arjuna. Pada tahun 1974, sekitar tanggal 6 September terjadi pembahasan antara Presiden Republik Indonesia, Bapak Soeharto dengan Perdana Mentri Australia, Grough Whitlam.

Mereka membahas tentang Timor Timur. Tapi ini masih butuh catatan tertulis untuk mengetahui kebenarannya. Mungkin itu yang membuat bangunan ini disebut Pendopo Soeharto - Whitlam.

Dari depan pendopo ini lah, saya dan teman-teman blogger dari Semarang bergabung dalam rombongan Famtrip Banjarnegara. 


Kencan Sejenak Dengan si Lincah Kawah Sikidang

Begitu menaiki bus, ada kotak snack yang mampu mengusir lapar. Sebenarnya sebelum tiba di komplek candi, sopir ojek online kami sempat menawarkan untuk mampir makan siang. Namun kami tak ingin ketinggalan rombongan lagi untuk bergabung dalam trip berikutnya.

Senangnya saat bisa bertemu dan mengikuti perjalanan menuju trip berikutnya. Kawah Sikidang ini memiliki cerita sendiri dalam hidup saya. 

Sekitar tahun 1992 saya pernah berkunjung ke Kawah Sikidang. Dan lokasinya itu terletak dekat dengan jalan setapak yang saat ini terdapat warung-warung. 

Kemudian setelah kawah, terdapat area luas yang tandus dan berwarna putih. Bila kaki menginjak di atas tanah itu, seperti empuk dan bisa mantul-mantul gitu. 

Dulu saya sempat terselip rasa khawatir. Bila tanah yang tengah saya injak ini longsor ke dalam. Bisa kalian bayangkan dong, saya akan jatuh ke dalamnya.

Namun logika saya menyeret angan untuk berpikir jernih. Namanya tempat wisata, tentu bila berbahaya tidak akan dibuka untuk umum.

Nah, kemarin kami sempat menggunakan masker karena bau belerang begitu kuat berhembus. Bagi yang kuat sih nggak pakai juga nggak masalah. Karena masker saya pun hanya menggantung di leher. Sesekali aja saya gunakan, kalo ada yang merokok, haahahaa.


Pesona Dieng
Pict. by Ika Puspita
Jadi kawah Sikidang itu sesuai nama yang disematkan padanya. Kawah yang suka berpindah-pindah ini memang menyimpan misteri. Dari lokasi kawah yang saya tahu saat berkunjung pertama tahun 1992, saat ini Sikidang sudah berpindah tempat yang agak jauh.

Dari bibir kawah, kita bisa melihat lompatan-lompatan kecil sampai agak besar. Karena suka melompat dan berpindah lokasinya ini, dianggap mirip hewan Kijang. Karena itu lah kawah ini dinamakan Kawah Sikidang.

Bisa saja suatu hari nanti, lokasi kawah akan berpindah dari lokasi saat ini. Siapa yang tahu, kan?

Kalian wajib loh mampir kesini kalo udah nyampe Dieng. Tiket terusan dari kunjungan ke Candi Arjuna bisa digunakan untuk masuk kawasan ini.

Pesona Dieng
Pict by Ika Puspita

Duduk di ayunan, foto dekat kawah, ataupun di spot foto lainnya, bikin hepi. Di sini juga banyak warung bila Kalian berkunjung saat weekend.

Desa Wisata Dieng Kulon Yang Tak Pernah Sepi Pengunjung


Famtrip berlanjut menuju Desa Wisata Dieng Kulon. Di sini ada Mas Alif yang menjadi Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Pandawa. 

Mas Alif mengajak kami menyusuri perkampungan yang dekat dengan lokasi komplek Candi Arjuna. Di desa ini terdapat homestay yang siap menerima pengunjung lokasi wisata di Dieng. 

Di salah satu homestay yang kami kunjungi, bahkan terdapat paket komplit bila ingin menginap di sana. Sekar Jagad Homestay ini menjadi pusat pembuatan kerajinan lukis kayu. Ruang tamu homestay menjadi tempat mereka memamerkan karya berupa hiasan lukis di atas kayu dari tangan sang pemilik homestay. 

Terus terang saya takjub dengan hasil karya mereka. Bagi orang awam seperti saya, susah kayaknya melukis di atas kayu.


Pesona Dieng

Saya sempat mengambil gambar beberapa lukisan di atas kayu tersebut. Semua terlihat menarik dan unik. Beberapa teman blogger bahkan ikut melukis, namun medianya diganti kardus.

Butuh ketelatenan ya untuk melukis di atas permukaan kayu gini. Enggak bisa asal melukis tapi emang butuh kesabaran. Apalagi kalo salah coret, kan jadi nggak bagus, hahahaa. 

Saya sendiri nggak pede ikut melukis. Mending ngambil gambar kamar-kamar homestay yang disewakan aja. Sambil berbincang dengan pemilik rumah.


Dari dalam kamar saya mendengar Mas Alif bercerita tentang konsep desa wisata. Menurut Mas Alif, Desa Wisata bisa disebut seperti itu karena ada tiga hal pokok. Yaitu Something to See, Something to Do, Something to Buy.

Coba deh kalian nginap di homestay di Dieng Kulon, pemandangan yang cantik akan tersaji sejauh mata menatap. Bangun pagi menatap langit yang biru dengan perbukitan dan ladang penduduk, seakan surga yang gampang kita nikmati. Ini merupakan konsep Something to See.


Desa Wisata Dieng Kulon

Something to Do adalah dengan mengikuti paket nginap dan kegiatan pemilik homestay, mulai dari bangun pagi dan berjalan ke kebun. Ikut menyiangi rumput liar di kebun, pasti menjadi sensasi wisata yang bakal mengendap dalam hati kalian.

Atau bisa juga sekedar berjemur dan menikmati vitamin D gratis yang luar biasa hangatnya. Kalo pun udara dingin sesekali menyentuh permukaan kulit, nggak bakal bikin kedinginan. Karena ada sajian teh panas serta Tempe Kemul.

Nah, konsep Something to Buy bisa menjadi kegiatan bagi pengunjung untuk membeli hasil karya warga desa. Seperti ukiran, lukisan di atas kayu, sebagai oleh-oleh dan kenang-kenangan dari Desa Wisata Dieng Kulon.

Atau bisa juga membeli oleh-oleh makanannya yang beragam. Yaitu Carica dan Terong Belanda yang dikemas dalam wadah plastik. Manisan ini berkhasiat banyak.

Seperti Terong Belanda yang katanya bisa untuk menurunkan tensi dan kolesterol. 

Ada toko oleh-oleh yang sudah lama ada di dekat tempat bus rombongan parkir. Di sana tersedia Carica dan Terong Belanda yang dijadikan manisan, Purwoceng, dan beragam oleh-oleh lainnya khas Banjarnegara.


Melempar Batu di Sumur Jalatunda 

Pesona Dieng
Gerbang menuju Sumur Jalatunda
Pict by Gus Wahid

Kunjungan hari pertama Famtrip Banjarnegara 2018 adalah di Sumur Jalatunda. Saya sempat shalat dulu sebelum menaiki tangga yang jumlahnya puluhan itu.

Saya dan keluarga juga pernah berkunjung di Sumur Jalatunda ini sekitar tahun 2014. 

Kemarin saya tertawa menyaksikan teman-teman seperjalanan yang menghitung anak tangga saat naik dan turun. Katanya, hasil hitungan mereka saat naik dan turun tidak sama. 

Sumur Jalatunda dulunya merupakan lubang kepundan yang mengalami letusan dahsyat. Sehingga menjadi sebuah sumur dengan kedalaman 100 meter dan  diameter luasnya 90 meter.

Msyarakat setempat meyakini bahwa siapa yang berhasil melemparkan batu tiga kali berturut-turut dan mengenai tebing di seberang, keinginannya akan terwujud.


Bermalam di D'Qiano Sambil Berendam di Kolam Air Panas

Senja mengantarkan perjalanan kami berikutnya menuju ke D'Qiano Hot Spring Waterpark Dieng. Di penginapan yang terletak dekat dengan Kawah Sileri in lah kami akan bermalam. 

Udara dingin mulai merambat permukaan kulit. Saya masih bisa menahan dingin di kulit. Hanya bau belerang memang masih mengantarkan perjalanan ini.

Saya bersama teman perempuan mendapatkan kamar nomer 7. Terdapat dua lantai dengan lantai 1 ada kamar untuk dua orang dan kamar mandi dalam, serta ruang tamu.

Namun kami berlima, yaitu Ery, blogger Purbalingga, Gita blogger dari Banjarnegara memilik gabung dengan kami di lantai 2. Kami tinggal nyeret kasur satu untuk menambah fasilitas tidur di lantai 2 yang hanya untuk  4 orang.

Cerita selengkapnya akan saya tuliskan pada artikel selanjutnya ya. Terlalu panjang kalo ditulis di sini semua. Nantikan ya cerita tentang D'Qiano dan juga makan malam yang mengenyangkan. Wassalamualaikum.
Reading Time: