My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Takziyah
Tampilkan postingan dengan label Takziyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Takziyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Januari 2019

4 Hal Yang Perlu Dilakukan Keluarga Menjelang Sakaratul Maut
Januari 05, 2019 37 Comments


Assalamualaikum Sahabat. Talqin Perlu Dilakukan Menjelang Sakaratul Maut. Meski bagi anggota keluarga, ada perasaan belum mengikhlaskan dengan alasan sayang maupun ketakutan ditinggal orang tersayang.

Atau pernah kah kalian merasakan hati yang cemas, bertanya-tanya apakah malam menjelang tidur merupakan saat-saat akhir dalam keadaan bernyawa?

Dan bacaan ayat dalam Al Quran pun langsung meluncur beruntun dengan memperbanyak dzikir. Perasaan ketakutan ini wajar sih, karena sebagai muslim kita ingin meninggalkan dunia dalam keadaan husnul khotimah.

Akhir Hidup Kita, Pilih lah Husnul Khotimah

Kematian itu sebuah keniscayaan. Tidak ada patokan usia, kapan seseorang akan meninggal. Bisa saja mereka yang masih segar bugar ditemukan meninggal di atas tempat tidur karena serangan jantung. Sementara orang yang sudah berusia 90 tahun lebih masih sehat dan bisa beraktivitas jualan di pasar.

Jadi kematian itu tidak dekat dengan orang tua. Kematian bisa datang tanpa diduga, dalam berbagai peristiwa. Seperti kecelakaan transportasi atau sakit yang datang mendadak.

Dari Hadist dan Riwayat Ibnu Hiban :
Perbanyak lah oleh kalian mengingat pemutus kenikmatan (kematian)

Dalam berbagai kajian, kita selalu diingatkan oleh ustadz maupun ustadzah agar senantiasa menjaga keimanan. Caranya dengan istiqomah menjalankan syariat Islam, memperbanyak sedekah, tadarus Quran, menabung amalan baik, dan banyak lagi kebaikan yang bisa dilakukan agar selamat dari api neraka.

Cara meninggal seorang muslim diharapkan dalam keadaan husnul khotimah. Sedih kan bila ketika hidup seseorang dikenal rajin ke masjid namun saat jelang kematiannya, dia dalam keadaan su'ul khotimah. Semua itu misteri yang hanya mampu dipecahkan dengan selalu istiqomah menjaga iman dan ikhsan kita.

Menjelang akhir tahun 2018, saya dan suami sempat mengantarkan seorang keluarga menuju IGD rumah sakit. Rasa cemas membayangi keluarga besar kami. Terutama yang malam itu hadir menemani keluarga Om, adik bapak saya.

Bulik terlihat seperti orang tidur, diam tanpa reaksi apapun. Sementara slang oksigen, peralatan medis lainnya menempel di tubuh. Saya terpekur menatap di sisi tempat tidur di dalam ruangan IGD.

Tubuh yang mulai mengecil sejak enggan makan beberapa bulan ini, tak berdaya bak orang yang tidur lelap.


Hati saya sempat menciut manakala tangan yang saya gunakan memijat kaki, merasakan dingin di kedua kaki bulik. Sepupu, si sulung bulik dan om yang tinggal di Malang, sempat mengutarakan hal serupa. 

Sempat juga sepupu lain yang barengan menemani Om menunggu situasi medis bulik, membisikkan kondisi kaki yang mulai dingin.

"Kita perbanyak istighfar yuk," ajak saya.

Karena pasien yang ada di IGD hanya boleh ditunggui satu orang, kami pun bergantian menemani bulik.

Menyaksikan keluarga dalam kondisi lemah dan tidak sadar di ruang medis rumah sakit itu kadang bikin hati lemah. Perasaan kasihan, tidak tega, belum ikhlas, bercampur baur dengan keinginan agar pasien bisa diberikan tambahan waktu atau kesembuhan.

Namun kadang sebagai manusia, kita diharapkan bersiap diri untuk menghadapi kondisi sakaratul maut seorang anggota keluarga. Agar si sakit memiliki saat akhir hidupnya dalam keadaan husnul khotimah.

Sebagai anak, ponakan, ataupun cucu si sakit, kita wajib menuntun dan membimbing agar dimudahkan menjalani sakaratul maut.

Saya sempat curhat di WAG, tentang kondisi bulik. Bagaimana kondisi kakinya yang dingin, yang berbeda dengan tubuhnya bagian atas yang masih hangat.

Salah seorang teman di WAG, menyarankan agar kami terutama anaknya mulai talqin bulik. 

Sungguh, membaca pesan ini bikin hati saya mencelos. Benar kah ini saat akhir bulik kami? Bulik adalah istri Om, adik bapak saya yang aslinya terlahir di Banyumas. Kedekatan tempat tinggal dengan keluarga Om, bikin hubungan bulik dengan keponakan dari suami begitu akrab. Bahkan pernikahan saya dan suami pun mendapat dukungan materi yang tak mampu kami ganti seberapa pun besarnya.

Jadi, satu-satunya hal yang bisa saya dan sami lakukan adalah menemani bulik di saat-saat akhirnya.


Berikut ini pengalaman saya, sepupu, dan putri sulung bulik menjelang sakaratul maut :

1. Meminta Maaf

Kamis pagi, saya menelpon sepupu yang belum berangkat ke rumah sakit. Saya meminta dia untuk membisikkan permintaan maaf pada sang ibu. 
"Bilang ya kalo Widi ikhlas dengan kondisi Ibu, juga bila akan berpulang saat ini," pesan saya dengan hati bergemuruh oleh kesedihan.

Saya mendengar nada suara tertahan saat mengiyakan permintaan itu. Isak pelan mulai terdengar lamban. Namun alhamduillah Widi mampu meredamnya. Kami pun janjian akan bertemu di rumah sakit. Yang ternyata saya tidak mampu memenuhi janji karena ada kegiatan lain hari Kamis itu.

2. Memosisikan Kepala Miring ke Kanan

Ada nasihan yang pernah kami terima dari kajian rutin tiap Jumat sore yang saya ikuti. Bahwa menjelang saat akhir seseorang, sebaiknya ada anggota keluarga yang menidurkan si sakit pada posisi miring ke kanan. 

Namun karena kondisi bulik yang koma. Dan hanya bisa tidur dalam posisi telentang, kami memosisikan kepala agak miring ke kanan. Kebetulan posisi tempat tidur menghadap ke arah Barat. Jadi kaki sudah dalam posisi yang benar.

3. Disunnahkan men-Talqin si Sakit

Saya mulai perlahan meminta putri sulung bulik agar men-talqinkan ibunya. Kondisi ini bisa dilakukan bila anak-anak si sakit sudah mengikhlaskan saat akhir orang tuanya. Itu lah sebabnya, saya berpesan pada Widi agar meminta maaf dan mengikhlaskan ibunya.

Talqin biasanya dengan mengingatkan atau mengajarkan seseorang yang sedang sakaratul maut, mengucapkan kalimat syahadat. Pengucapannya dengan cara halus dan lembut, jangan memaksa si sakit untuk menirukan kalimat syahadat. Cukup dengan mengucapkan kalimat la ilaha illallah di telinga si sakit.

Terlebih bila si sakit dalam kondisi koma seperti bulik kami. Nggak mungkin juga meminta beliu turut mengucapkan kalimat syahadat. 

Namun kami cukup lega bilamana ada yang memperdengarkan kalimat syahadat, ada reaksi dari tubuh bulik. Kadang ada rembesan air mata dari kedua mata yang tertutup rapat. Atau dada yang tersengal pelan, ataupun jari yang bergerak. Isyarat itu cukup bagi kami, bahwa bulik mendengarkan kalimat syahadat yang kami ucapkan di telinganya.

4. Disunnahkan Baca Al Quran

Penunggu yang menemani si sakit diharapkan membaca surat dalam Al Quran. Bisa membaca surat Yasin, Al Ikhlas, atupun memperbanyak Al Fatihah.

Bisa juga dengan membaca dzikir, shalawat, dan istighfar di samping si sakit. Intinya adalah mengingatkan si sakit bahwa semasa hidupnya dia selalu mengucapkan kalam ilahi.

Sakaratul maut memang belum pernah kita alami. Namun mempersiapkan kondisi sakaratul maut dengan harapan mendapat ampunan dan Rahmat Allah, patutu kita usahakan pada orang yang sakit kritis.

Bulik kami sudah dipanggil Allah memasuki hari keempat di ruang ICU rumah sakit. Alhamdulillah ada putra bungsu bulik yang menemaninya menjelang detik akhir kepergiannya. Innalillahi wainna ilaihi roji'un... Allahhummaghfir lahaa warhamha wa'aafiha wa'fu anha. 

Kami sudah mengikhlaskan kepergian bulik, ibu dari dua putra putri yang sholeh dan sholehah. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan bulik semasa hidup. Dan menempatkannya di sisi orang-orang yang mulia akhlaknya, aamiin. 

Rasa bahagia terselip saat shalat jenazah, yang beberapa kali dilakukan di rumah duka. Bahkan saat akan dishalatkan di masjid, jemaah memenuhi setiap sudut masjid dekat rumah kami. Masyaa Allah, semoga bulik kembali dalam keadaan husnul khotimah.


Begitu banyak yang hadir untuk takziyah, mendoakan hingga tujuh harinya bulik di rumah Om. Saya sesekali sempat terharu menyaksikan setiap harinya saat datang ke rumah Om. Malam ketujuh bahkan lebih dari 100 orang hadir untuk mendoakan almarhum bulik Sri. Memperlihatkan amalan kebaikan bulik semasa hidupnya meninggalkan kenangan manis pada orang terdekat, tetangga, saudara, keponakannya.

Wassalamualaikum.
Reading Time: