Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

7 Dec 2015

Jangan Menjadi Teman Yang Makan Teman

hidayah-art.com


Halo assalamu'alaikum, temans. Semoga sehat semua hari ini, aamiin :D
Haiii, judulnya kok kayak iklan di tivi, jeruk makan jeruk??? Memang ada teman makan teman? Maksudnya apa siiiih? Yuk deh kita cari tahu, lanjuuut.

Jaman makin susah buat nyari duit, jadinya makin banyak pula orang yang suka menusuk dari belakang. Di depan kita, sikapnya maniiiis banget. Tapi di belakang kita, ucapannya mengumbar keburukan kita entah nyata maupun hanya hasil khayalan dia saja. 


Ya namanya juga hidup berdampingan di muka bumi. Ada aja kan ya, orang yang tidak suka dengan setiap sikap dan tingkah laku kita. Tapi kalo orang lain yang tidak suka, kita bisa aja bersikap cuek. Beda bila yang tidak menyukai kita adalah teman sendiri. Rasanyaaa, gimanaa gitu, hiksss.

Jangan sedih kalo kalian pernah mengalami kejadian teman yang baik di muka, tapi bersikap buruk di belakang kita. Banyak kok yang ngalami, sayaaah juga.*Eaaa, ada yang curhat*

Tapi nggak bakal deh saya sebutin, teman bergaul di manaaa gitu. Jangan, ntar malah kagak baik jadinya. Tapi saya berharap dia membaca tulisan ini, jadi biar menjadi introspeksi untuknya. Eh tapi, dia baca nggak ya? Masa bodoh deh, yang penting saya nulis biar hati jadi lega. Juga agar saya jangan melakukan hal seperti teman saya ini.

Gimana sih yang namanya teman makan teman itu?

Biasanya dia bersikap manis di depan kita, cerita yang baik, ngobrol juga asik aja. Bahkan kita bisa terlena dengan sikapnya ini. Dan kita pun menjadi dekat dengannya, sampai-sampai curhat sesuatu yang sifatnya privasi. 

Nah, tiba-tiba aja suatu hari ada seorang teman yang memberitahu kita tentang teman ini.

"Eh, hati-hati kalo ngobrol sama dia, soalnya dia tuh ngomongin keburukanmu."

Nah loh, gimana perasaanmu, isi hatimu? Makjleb kah? Sakit hati? 

Pertama mendengar berita ini, pasti kamu bakal berkilah, ah beritanya bohong. Pengennya sih kita enggak mau percaya dengan si pembawa berita. Namun ketika ada lebih dari dua orang yang membenarkan hal yang sama, masa iya kita masih aja mau mengelak?

hidayah-art.com


Memaafkannya.

Mungkin bisa dilakukan bila kita adalah orang yang pemaaf. Dengan memaafkan teman yang menyakiti kita, juga bikin hati menjadi damai. Karena dunia tak hanya berputar di sekeliling teman yang satu ini.

Namun ternyata tak cukup sekali perbuatan itu dilakukan oleh teman kita. Apakah kita akan terus menerima sikap buruk tersebut? Apakah kita ingin hati selalu tersakiti? Enggak mudah loh menjadi pemaaf terus menerus pada satu orang teman. Bukannya membuat hati menjadi mudah memaafkan, yang ada malah kita menjadikan diri sebagai korban ketidaknyamanan. 

Enggak enak loh punya teman yang suka makan teman gini. Apalagi kalo kita menjadi satu tim untuk mencapai suatu karya bersama. Yang ada suasana menjadi tidak kondusif.

Ada lima langkah yang bisa kita pilih untuk menghadapi teman model gini :

  • Ajak bicara dalam kondisi dia tengah bahagia. Tentunya bicara berdua, dengan mengungkapan isi hati kita tentang kebaikan. Bilang aja kalo kita akan senang bila dia mau menunjukkan apa kesalahan kita. Mengapa dia bercerita buruk tentang kita, atau adakah yang bisa kita bantu untuknya agar jangan mengulangi lagi perbuatannya. Tentu bicara dengan pelan, dari hati ke hati dan menjaga kesabaran.
  • Memahami teman kita dengan lebih peka terhadap kondisinya. Siapa tahu kan kita selalu saja bercerita tentang diri sendiri, tanpa memberikan kesempatan pada teman untuk mengungkapkan masalah pribadinya. Atau teman kita ini sungkan curhat karena masalahnya sesuatu yang memalukan dirinya dan keluarga. Nah, mesti lebih berhati-hati tapinya, kalo ingin membantu, jangan sampai dimanfaatkan.
  • Batasi bergaul dengan teman ini. Mana enaknya bila satu tim ada model teman seperti ini, egois dan suka menyakiti sesama teman. Bilang baik di depan, dan menjelek-jelekkan di belakang kita. Dan itu dilakukan pada teman satu tim. Sikap yang baik adalah tetap bersikap seperti biasanya, menjaga hubungan baik namun jaga jarak. Kalo dia tahu teman-temannya mengurangi kadar interaksi dengannya, tentunya harus sadar dengan sikap buruknya ini.
  • Menentukan batas sikap dengannya. Berterus terang pada teman ini, bahwa kita tidak menyukai sikapnya. Kita lah yang mengatur apa yang bisa dilakukan teman ini, bukan dia. Bila sudah tidak suka dengan sikapnya, kita yang menentukan batas mana interaksi dengannya.
  • Ada kalanya orang bisa bersikap egois selamanya. Mungkin ia kurang piknik? Ah, entah lah. Tapi yang pasti, kita tidak bisa menolerir sikap egois dan senang menyakiti dari teman kita tanpa berbuat apa-apa. Bila tak mampu lagi menahan diri, alangkah bijaknya bila kita yang mengambil langkah akhir. Menjauh lah, agar hati tak tersakiti terus menerus.


hidayah-art.com

Menjadi teman tidak harus memuji dan memuja berlebihan. Namun menjadi teman juga jangan sampai menyakiti teman lain. Karena kadang kita tidak pernah tahu, apa yang telah perbuat bisa jadi sudah menyakiti teman kita. 

Jadi kalo sekarang saya tak lagi beredar dalam satu interaksi yang sama dengan seseorang, maka maklumi saja. Saya memang tengah menjaga hati agar tak lagi tersakiti. 

Karena sepotong hati yang terluka, sangat susah menyembuhkannya.

Wassalam'alaikum :D


28 comments :

  1. Memang banyak teman model begini. Tapi makin bertambah umur saya, menjauh menjadi pilihan yang sering saya lakukan. Saya pikir, saya makin dibutuhkan oleh keluarga & harus tambah rajin beribadah, jadi urusan yang ribet2 begitu nggak usah kebanyakan dibahas krn buang2 waktu & bikin sakit hati. Mendingan langsung menjauh saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pilihan kita sama, mbak Lus. Aku juga mending menjauh aja, dari pada sakit hati berulang. Enggak enak banget pokoknya.

      Delete
    2. betul... anggap aja bagian dari pengalaman hidup... (ciyeh sok bijak)

      Delete
  2. Banyak mb Wati teman model begini...kalo ada maunya, butuh bantuan kita suka pedekate sok2 akrab...sudah ga butuh menjauh...trus suka memfitnah lagi. Aku pernah mengalami ini pas masih ngajar dan kuliah. Rasanya? sakit bener dah..
    tapi si teman ini sekarang jadi ga punya teman, karena banyak yg tahu sifat aslinya. Yg pernah terprovokasi membenci aku jd ga enak ati sama aku....hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku udah nemu 3 orang, pengennya sih bikin museum buat mereka, hahahahaa...

      Gpp, dijelek-jelekkin, yang berbuat gitu kan manusia. Kalo udah terlihat kita tak seperti yang dibicarakan, ada juga kok yang gak percaya. Dan akhirnya waktu yang membuktikan, mba Ika. Stay cool aja :)

      Delete
  3. Ini terjadi ma aku dan itu menyebalkan. -,-

    ReplyDelete
  4. iya, mendingan langsung menjauh deh dengan tipe teman kayak gini biar aman ni hati dan pikiran...

    ReplyDelete
  5. kalu ada si A ngomngin kita di belakang dengan si B kemudian B memberi tahu kita bahwa si A sudah ngomongin (jelek2in) kita...mungkin perlu hati2 juga sama si B, karena jika si B bisa ngomongin tentang si A pada kita, jangan2 si B juga ngomongin kita dengan si C dan si anu *duuh jlimet yaa* #maafkeun :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naah itu, harus hati-hati ya... kita nggak tahu sih isi hati manusia, adaaa aja yang suka ngomporin dan meniup api agar membesar *eh, apaan sih

      Delete
  6. keren Quotesnya, setuju saya mba :)

    ReplyDelete
  7. itu namanya bermuka dua mbak, orang model gini pada akhirnya akan kesepian karena akan ditinggalkan teman-temannya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, topengnya yg jelek disimpen, dikeluarkan saat ia ingin mencari pehatian kita :)

      Delete
  8. Alhamdulillah, kayaknya aku jarang dapat temen begini sampe mikir, siapa ya yang kayak gini? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalo gitu, temennya baik semua yaa mbak :D

      Delete
  9. semoga dijauhkan dari manusia yang bernama teman makan teman ya mb hihihi
    kayak kasusnya artis ibukota ya huhuhui

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, harus lebih berhati-hati deh cari teman.

      Eh, Nit, jadi kepo siapa artisnya, hihiii

      Delete
  10. semoga saya bisa menjadi teman baik bagi teman-teman saya amiiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, saya juga berharap demikian mbak :)

      Delete
  11. Membaca postingan ini mengingatkan saya akan masa lalu. Bisa dibilang saya ini pendiam, jadi seringkali disepelekan sama teman-teman. Nggak jarang juga mereka menusuk dari belakang. Sakit sih, tapi buat pelajaran untuk diri sendiri. :)

    ReplyDelete
  12. bikin pusing mengahdapi yang seperti ini ya mbak. sepakat banget deh mendingan jaga jarak. banyak hal yang lebih berguna kita dan memluas silaturahim dg yg bener2 tulus

    ReplyDelete
  13. saya cenderung pergi jauh aja deh kalau ketemu yang beginian. mungkin bukan menjauh secara fisik tapi secara hati.

    dan kepada orang yang menyampaikan ke saya bahwa ada teman makan teman, saya juga jaga jarak. mana tau dia agen ganda? eh kok suuzhon. ya gimana ya, takutnya begitu.

    ReplyDelete
  14. Pasti gak enak rasanya ya, Mbak.
    Mudah2an dia baca dan berubah.
    Insya Allah ladang amal buat Mbak Hidayah :)

    ReplyDelete
  15. betul sekali, yg namanya dimakan teman memang gak enak, aku klo udah gitu suka membatasi jadinya mbak

    ReplyDelete
  16. lama-lam jadi ketauan ya mbak seperti apa teman kita

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...