Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

19 Dec 2015

Bagaimana Mengasuh Anak Laki-Laki Agar Memiliki Empati?




Saya sering banget disarankan punya anak lagi. Sebabnya adalah karena dua anak saya laki-laki semua. Katanya sih kalo anak laki-laki, tak bisa diharapkan bakal merawat orang tuanya. Berbeda dengan anak perempuan. Namun sebenarnya, hal itu bisa dipatahkan dengan bimbingan dan kasih sayang kita sebagai ibu. Gimana sih sebenarnya mendidik anak laki-laki, agar mereka juga memiliki empati pada orang tua? Yuk, saya ceritakan lebih lengkap.


Sebenarnya saya adalah perempuan yang sangat beruntung. Alhamdulillah saya juga perempuan tercantik di rumah. Iya lah, serumah cuma saya yang perempuan. 

Nah, waktu melahirkan si bungsu, banyak tuh yang datang berkunjung ke rumah menyarankan segera punya baby lagi. Aduuuh, trus nih orok siapa yang mengasuh? Saya juga masih kerja. 

Oh iya, saya cerita dikit deh sebelum si bungsu lahir. Saya udah ngomong sama suami, keluarga dekat juga, kalo yang mau lahir ini anak perempuan, saya bakal resign. Udah pede aja kalo baby dalam rahim adalah perempuan. Di samping nggak periksa USG untuk melihat jenis kelamin, banyak yang menghubungkan penampilan selama hamil dengan calon baby.*uhuk*

Ternyata saya belum dikasih kepercayaan mengasuh anak perempuan. Mungkin kalo beneran lahir baby perempuan, dia bakalan bertengkar terus dengan emaknya. Lah, saya udah berniat nemenin kemana aja dia pergi, hihihiii

Mana ada anak yang mau diikutin emaknya terus menerus?

Tapi ternyata banyak senangnya punya anak laki-laki. Mereka selalu setia pada emaknya. Sejak kecil kalo emaknya pulang dari kerja, dan rebahan di kursi, segera aja ada tangan-tangan mungil yang memijat tubuh. Atau mengambilkan air minum, dan itu rasanya berada di surga.

Trus apa sih yang harus diajarkan pada mereka agar hingga dewasa kelak tetap memiliki empati pada orang tua? Yuk lanjut aja deh.

Melakukan Kegiatan Bersama Sejak Dini

Saat memasak, atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, saya tak pernah melarang anak-anak ikut gabung. Bahkan pernah si sulung mengambil hampir semua perkakas dapur yang bisa diraihnya, dan diletakkan di lantai. Saya sih membiarkannya karena sibuk menggoreng ikan. Takut hangus dong, kalo ngurusi si sulung yang asik banget main musik dengan panci, tutup gelas serta sendok sayur.

Belum lagi dengan reaksi si kecil bila dilarang secara langsung, dia pasti marah. Mending saya bereskan urusan masak, baru ngurus si kecil.

Biasanya kalo udah beberapa menit, si sulung udah bosan dan saya akan mengajaknya membereskan semua perkakas yang diambilnya harus kembali ke tempat semula.

Meminta Bantuan Pada Si Buyung

Saat kita tengah menyapu, bisa loh meminta si kecil untuk mengambilkan tempat mengeruk sampah. Atau meminta tolong si kecil menyiapkan ember berisi pewangi lantai. Si kecil yang menuangkan cairan pewangi, dengan cara memberi contoh seberapa banyak takarannya. Dia bakal mengulang hal serupa saat membantu di laih hari.

Bikin Makanan Bareng Si Buyung

Bukan anak perempuan saja yang bisa diajak memasak di dapur. Apalagi sekedar bikin jajanan atau kue. Langkah pertama bila si kecil masih berumur dua tahun, bisa loh membuat roti bakar. Si kecil bisa diberi tugas mengoleskan margarin. Meski belepotan dan kotor di mana-mana, biarkan si kecil bereksplorasi.

Kelak saat usianya makin bertambah, dia bakal enjoy membantu kita saat tengah repot mempersiapkan masakan. Atau membantu bikin kue dan jajanan ringan untuk teman minum teh sore hari.



hidayah-art.com
Si bungsu suka membantu emak sejak kecil hingga sekarang
(saat berumur 10 tahun)
Seperti saat saya menerima pengajian di rumah, si sulung selalu membantu menata tikar di ruang tamu. Atau mengambilkan dos untuk makanan kecil dan meletakkannya di meja. Usianya masih kecil, belum ada tiga tahun. Tapi karena bantuannya sangat saya hargai, dia pun berusaha menata dos dalam tumpukan yang rapi.

Saya juga membiarkannya memegang hand mixer saat mengaduk adonan kue. Tersirat binar di wajah si kecil karena mendapat kepercayaan membantu ibu. Saya melakukan hal serupa pada si bungsu. Bahkan ia sudah pintar membentuk adonan kue pastel saat masih berusia 8 tahun. 

Jadi, jangan pernah melarang si kecil mengganggu melihat saat kita tengah memasak sesuatu. Larangan itu bakal menjadikan si kecil makin penasaran dan terus mengusik pekerjaan kita. Bukannya cepat selesai, yang ada pekerjaan kita jadi lebih lambat.

Melibatkan Ayah Dalam Pekerjaan Rumah


Ya, saya beruntung memiliki suami yang suka membantu urusan domestik. Entah saya baca di mana, peran ayah terlibat dalam urusan domestik dan mengurus si kecil, bakal membekas dalam ingatan mereka. Anak laki-laki maupun perempuan, butuh figur orang dewasa laki-laki yang mau berinteraksi dengan mereka. Tidak hanya hadir sebagai ayah karena faktor ikatan keluarga, tapi juga secara fisik dan mental. 
  
Keterlibatan suami dalam mengurus pekerjaan rumah, bisa menjadi contoh bagi si kecil, bahwa laki-laki tidak tabu mengurus rumah. Di rumah saat ini, si sulung dan si bungsu punya tugas masing-masing. Apalagi sudah enam tahun ini saya tak memiliki ART. Semua tugas RT dibagi rata kami kerjakan berempat. Tapi enggak kaku sih, siapa yang bisa mengerjakan ya kerjakan aja. 

Mencuci pakaian sih enggak masuk hitungan, karena ada si samsu ya, hihii..
Tapi urusan mencuci piring, menyapu, mengepel lantai, saya senang bisa berbagi dengan anggota keluarga di rumah. Anak laki-laki justru handal melakukannya.  Saat mesin cuci rusak, suami punya tangan kuat untuk membersihkan kotoran pada celana jeans miliknya. Dan gerakan gesit si bungsu yang hobi main air, disalurkan dengan tugas mengepel lantai. Pertama kali mengerjakannya, mungkin kuran sempurna hasilnya. Namun tunggu saja beberapa waktu, si kecil yang tumbuh remaja bakal trampil mengepel lantai. 

Menjadi Teman Bercerita

Ketika si kecil mulai cerewet dengan banyak pertanyaan, atau sekedar curhat kegiatannya hari itu, sementara tubuh lelah bekerja di rumah ataupun di tempat kerja, pengen rasanya menutup telinga. Atau memejamkan mata dan tertidur sebentar. Namun tak mungkin kita meninggalkan ocehan si kecil, bisa terjadi gempa bumi lokal. Entah si kecil menjadi marah karena ceritanya diabaikan, dengan makin meninggikan suara. Atau melempar mainannya ke penjuru rumah. 

Meski senja telah tiba, tubuh yang lelah butuh beristirahat, saat si kecil datang dengan rengekannya, sisihkan semua lelah. Tarik nafas panjang, pasang senyum dan ulurkan lengan untuk merengkuhnya dalam pelukan hangat seorang ibu.

Abaikan semua lelah, dan siapkan diri mendengar celoteh yang tak berkesudahan. Yakin lah, mendengar kecerewetan si kecil, lelah di tubuh bakal lenyap tak berbekas. Apalagi menatap wajah imut dengan gigi ompong saat tertawa, luruh sudah pening karena urusan kerja. 

Bertahanlah, karena ketika si kecil tumbuh remaja, bakal ada saat istimewa yang menyenangkan hati kita. Ketika kita sakit, tapi harus tetap beraktifitas, akan ada sosok anak laki-laki yang setia di sisi kita. Mendampingi dan menggandeng jemari kita, berjalan bersisian.




Bisa ikut jalan-jalan
di kota Solo, mengunjungi penerbit
TIGA SERANGKAI bareng IIDN Semarang
karena si sulung
berkenang menemani 
emaknya.

Enggak malu berjalan
di sisi saya. Kenangan
itu tak terlukiskan dalam gambar. Namun
tersimpan dalam hati.





Bukan hal mudah mendampingi emaknya yang tengah sakit engkel kaki karena terkilir. Si sulung mesti menuntun dengan menautkan tangan kami, agar saya bisa berjalan. Karena saya terlalu malu memakai tongkat penyangga tubuh untuk alat bantu jalan. 

Mendampingi anak laki-laki tak butuh banyak effort yang menyakitkan. Banyak kesenangan yang bisa dinikmati. Seperti menemani bermain bola, bermain pasir, melipat kertas dan membuat aneka satwa. Selalu ada tawa di balik kerepotan dan kerumitan berinteraksi dengan si kecil.

Namun dengan ketulusan, kepedulian dan kasih sayang yang kita curahkan untuk si kecil, selalu ada sisi baik yang kita terima pada masa datang.  

Anak laki-laki itu penjaga orang tua, pendamping ibu yang setia. Ketika kasih sayang dan pengertian senantiasa tercurah untuknya, ia bakal selalu ada kapan pun kita membutuhkannya. That's all, Moms.

20 comments :

  1. yang dapat mengasuh dan membantu orang tua tidak hanya anak perempuan saja ya bu, anak laki2 juga kadang bisa membantu di kala orang tua nya lagi kerepotan, semoga saja kelak saya bisa mempunyai anak yang soleh dan rajin amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, tinggal dididik aja agar anak mengerti kalo orang tuanya butuh bantuan membereskan PRT. Karena kadang ortu tidak mengajarkan anak2 bekerja di rumah dg alasan kasihan.

      Delete
  2. Yang paling susye poin melibatkan suami hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak setiap saat juga kok mbak, pas suami bisa aja, jadi bukan wajib banget sih sebenarnya, hehehee

      Delete
  3. Oh gitu ya mbak tipsnya. Ntar dicoba ah.
    Kadang kalo si ganteng gangguin kerjaan saya, saya masih kzl gitu merasa terganggu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seringnya gitu ya, karena kita inginnya pekerjaan cepet beres. Kalo sejak kecil udh dilarang bantuin a.k.a. malah gangguin, nanti besar malah malas dimintai tolong. Krn sejak kecil enggak dibiasakan.

      Delete
  4. terharu deh mba watiii liat anak2mu, perhatian dan sayang banget pada emaknya..terima kasih tipsnya yaa, bermanfaat banget

    ReplyDelete
  5. Wah jadi teringat sama siswa saya yang suka berantem, ternyata peran ayah memang sangat penting. Pantas saja mereka jadi agresif, mayoritas memang dari keluarga broken home yang memilih untuk tinggal bersama Ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya peran ayah pengganti bisa diterapkan sih, peran kakek, om atau laki-laki dewasa lain yang ada di lingkungan keluarga. Yang bisa memberikan perhatian, kasih sayang tanpa embel2 memberi cap buruk pada anak2. Krn sifat anak-anak itu sebenarnya bisa dibentuk oleh orang dewasa, nggak harus orang tua kandung.

      Delete
  6. *bacanya sambil angguk-angguk* kebetulan punya anak laki-laki juga soalnya. Hehe. Makasi sharingnya ya Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heehehee, kayak burung dong, mbak...
      Alhamdulillah kalo bisa diambil manfaatnya yaaa :)

      Delete
  7. eaaaa si Alfi masih anak tunggal nih belum ada adik, tapi sudah keliatan sedikit empati ke temannya walo kadang jail juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak sulung biasanya punya pembawaan jadi pemimpin, suka berbagi sama teman-temannya, peduli gitu deh, mbak

      Delete
  8. setuju, Mbak. Semua tentang gimana mendidiknya. Suami saya itu 4 bersaudara. Dan, semuanya laki-laki. Alhamdulillah, mereka maish memiliki empati untuk merawat orang tuanya yang sudah sepuh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang ya mbak, karena biasanya kalo suami perhatian pada ortu, dia akan memiliki perhatian yang lebih pada anak dan istrinya. Alhamdulillah ya :)

      Delete
  9. Aku punya anak cowok satu, tapi sejak kecil sudah dibiasakan membantu dengan harapan bila beranjak dewasa akan memiliki empati dan tanggap waskito ketika harus memberikan bantuan. Bersyukur si Aufa ini gampang diarahkan...

    ReplyDelete
  10. suka banget saat melihat anak laki-laki yang dekat dengan ibunya :)karena biasanya laki-laki yang menyayangi ibunya sudah pasti akan menghargai istrinya :)

    ReplyDelete
  11. Terharu Mbak saya bacanya.. Alhamdulillah ya putra-putra mbak Hidayah sudah punya empati sejak kecil. Makasih, Mbak, tip2nya. Masukan yang bagus buat saya :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...