Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

14 May 2015

HOROR MENEROR DI RUMAH NOMOR 17 - Bagian 1



                             
Gambar ini diambil dari Sini
                    

Udah dua hari ini tubuhku seperti tak bertenaga. Mudah lelah, malas keluar rumah, pengennya tiduran aja di dalam kamar. Goler-goler di kasur itu enak banget. Apalagi masih pukul sepuluh aja, matahari di luar sana menyorot garang. Tapi ntar mama ribut dan ceramah, tambah malas dehhh.


Dengan langkah berat, aku menyeret kaki ini ke kamar mandi. Yang penting mandi dulu aja, urusan jemput mama di rumah bude Narti, ntar aja lihat sikon.

Ternyata mandi pada hari minggu paling asik kalo udah pukul 10, huahahahaaa
Bukankah hari minggu itu hari kebebasan? Bebas mau tiduran, bebas makan siang, bebas mandi siang pulak. Kagak ada yang nyinyirin, seperti kalo hari biasa. Mana ada berangkat sekolah nggak mandi dulu?! Bisa pingsan ntar teman sekitar meja. Paginya sih parfum masih bekerja, tapi menjelang siang, wowowowowww *bau ketek semerbak

Dengan tubuh masih lembab usai diusap handuk, tanganku meraih pakaian dalam. Suaraku bergumam, mengikuti lagu vokalis Maroon yang bersenandung di memori otak. Ketika itu lah, aku mendengar suara lain dari balik pintu kamar mandi.

Aku sendiri di dalam rumah. Mama masih di rumah bude Narti, dan Bima pergi keluar sejak pagi buta. Katanya sih car freeday di Simpang Lima. Trus, siapa itu yang ngikuti suaraku di balik pintu?

Pikiran logisku mengusir jauh perasaan tak enak yang tiba-tiba menyelinap. Aku segera menyelesaikan urusan di kamar mandi. Dengan hati dag dig dug, aku membuka pintu dalam sekali sentakan.

Tak ada siapa pun di depan kamar mandi. Ruang makan kosong, hanya ada seperangkat meja dan kursi makan. Pintu yang menuju keluar rumah bagian belakang terbuka. Apa tadi ada orang di sini, kemudian bergegas keluar dari pintu itu begitu mendengar aku telah menyelesaikan mandiku? Batinku dengan hati bergetar. Dan pertanyaanku berikut yang tak mampu kujawab adalah, pintu keluar itu tadi tertutup atau memang sudah terbuka?

Kakiku melangkah menuju ambang pintu, menengok keluar rumah. Dan arah mataku tertuju pada dua ruangan kecil di belakang rumah yang terpisah bangunannya dari rumah utama. Kosong. Tak ada jejak seseorang di sana. Aku segera masuk, menutup pintu dan memasang gerendelnya.

Tinggal di komplek perumahan harus waspada. Beberapa hari lalu, rumah bu Astri habis kecolongan. Gadget dan laptop milik Elsa diembat pencuri yang nyelonong pas rumah kosong. Hiyyy, aku takut kalo kejadian serupa terulang di rumah kami. Dengan lebih hati-hati, aku mengecek semua pintu keluar rumah. Dan, aman. Semua sudah terkunci. Hanya pintu samping itu yang terbuka. Entah aku yang lupa atau mama, yang pasti untuk saat ini rumah dalam kondisi aman.

Kejadian pagi itu terlupakan karena kesibukanku. Malam hari aku tidur agak larut. Tubuhku masih lelah. Biasanya kalo kondisi lemah seperti ini, aku gampang banget merasa lelah. Ujung-ujungnya aku jadi susah tidur juga.

Akhirnya mataku digayut kantuk. Makin berat, hingga mimpi menyeretku lebih jauh.

Tiba-tiba mataku terbuka lebar. Kantuk lenyap. Entah lah berapa lama aku tertidur. Rasanya baru sekejap aku menutup mata. Namun suasana kamar begitu dingin. Aku menarik selimut yang terkumpul di bagian ujung tempat tidur dengan mengaitkan jemari kaki. Namun kakiku tak mampu mengangkatnya. Aku terpaksa bangun dan meraih selimut dengan tangan.

Dan, saat aku memosisikan tubuhku untuk berbaring kembali, tatapanku tertuju pada lantai kamar. Ekor mataku sebelumnya sudah menangkap sesuatu yang aneh di sisi kanan tubuhku. Namun ada perasaan enggan, seperti ada penolakan untuk berpaling kesana.

Tapi sosok yang berjajar di lantai kamarku itu akhirnya tertangkap pandanganku. Mulutku tak mampu  berucap. Tubuhku berasa lemas, tak berdaya bergerak. Udara dingin makin menyelimuti tubuhku. Lidahku bahkan dingin seperti mengulum es batu.

Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku sebut nama mama dan Bima. Namun telingaku pun tak bisa mendengar teriakanku. Sepertinya, tak ada suara yang keluar dari batang leherku.

Mataku makin terpusat pada sosok berbalut kain kafan yang tak lagi putih. Terutama pada bagian wajah yang tampaknya seperti hangus. Terbakar kah? Ada satu sosok tubuh yang lebih panjang dibanding tiga tubuh lainnya.

Aku mewekkk, terisak. Tubuhku tak mampu bergerak. Kalau pun aku bangkit dari tempat tidur, langkahku pasti menginjak jejeran sosok yang berbalut kain kafan itu. Aku enggan bangkit. Tapi aku juga ingin pergi keluar kamar.

"Mamaaa...."

Akhirnya mulutku mampu mengucapkan satu kata yang semula susah banget bersuara.

Meski teriakanku tak keras, mama sepertinya mendengar panggilanku. Ia berjalan dengan langkah bergegas menuju kamarku.

"Mama, ituuu..." Tanganku menunjuk lantai kamar.

Kening mama mengerut. Pandangan mama terlihat bingung mendengar ucapanku.

"Ya Allah, Ekaaa... tubuhmu basah. Kamu mimpi buruk?"

Pertanyaan mama tak mampu kujawab. Tatapanku tertuju pada lantai kamar yang kosong. Empat sosok tadi tak ada di sana, lenyap!

Tiba-tiba tangisku meledak di tengah malam. Mama langsung mendekapku. Bingung pasti mendapati putri sulungnya dalam posisi kacau.

"Sshhh, udah, Mama ambilin minum dulu, biar Eka tenang."
"Eka nggak mau ditinggal. Mama di sini ajaaa..."
Aku menarik lengan mama. Memeluknya kencang. Aku tak mau ditinggal sendiri di dalam kamar.

"Eka napa? Itu cuma mimpi buruk, bantalnya dibalik gih," Mama memeluk sambil membalik bantal di sisi atas kasur.

Aku menolak saran mama. Ia tak tahu apa yang barusan kuhadapi di kamar ini. Bibirku masih bergetar, tubuhku masih terasa dingin. Sedangkan mama malah menyalakan kembali pendingin udara di dalam kamar.

"Eka mimpi apa? Kalo bikin kamu makin takut, ya udah nggak usah cerita sekarang."

Aku masih enggan ngomongin yang aku lihat pada mama. Apa iya mama percaya ceritaku? Pasti ia mengira itu hanya mimpi. Tapi aku juga takut tidur sendiri di sini. Takut sosok menakutkan tadi muncul. Ingatanku masih merekam jelas sosoknya yang mengerikan. Dengan muka berwarna sehitam arang, kulit muka yang terkelupas dan ada darah di sana-sini, aku tak bisa menghapus kengerian yang mengendap di hatiku.


To be continue...
(based on tru story - rumah di pedurungan, Semarang dalam penuturan putri ibu Yani)

37 comments :

  1. Seru banget ceritanya,. ditunggu kelanjutannya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nunggu kamis depan ya, makasih udah baca kisahnya :)

      Delete
  2. Aduh...jadi keinget anakku yang pertama juga bisa liat itu. Kalo dia liat sesuatu tandanya pasti langsung diam...
    menanti kelanjutan ceritanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kayak anakku yg bungsu, mbak. Dia bisa lihat penunggu rumah, ini nurun dari bapaknya.

      Delete
  3. Ayo Mbaaaak... terusin iih xD pagi2 bikin penasaran deeh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, sabar ya nungguin kamis depan, hihihiii

      Delete
  4. Iiih, merinding baca ceritanya. Tapi, memang ada kok yang bisa makhluk-makhluk seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, bahkan suami sama si bungsu juga bisa ngelihat. Alhamdulillah aku enggak bisa, hihihiiii

      Delete
  5. aku sih ga pengen samasekali bisa ngeliat penampakan bgini ya mba... amit2 jgn sampe -_-... tp temen ada yg bisa.. dan dia pernah ngeliat pocong di jendela kamarnya gt...mukanya emg hitam legam kyk hangus... dan sama tuh, dia jg sempet ga bisa teriak ato minta tolong. Terpaku gitu.. hadeuhhhh bnr2 ga pgn deh ngeliatnya -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wewww, ngeri itu, aku sih jangan sampai bertemu makhluk yg wajahnya ngeri gitu :)

      Delete
  6. Aku pernah diganggu pocong, Mbak. Kain putihnya ada bercak-bercak warna pink. Kain pocong di kepalanya goyang-goyang, mukanya gosong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduhhh, ini kayak ponakanku, kebetulan seberang rumahnya makam. Tapi kafannya katanya bersih, huhuue

      Delete
  7. Replies
    1. Yah, gitu deh mbak, kalo bisa ngelihat makin serem lagi.

      Delete
  8. untung bacanya nggak tengah malam bun. ditunggu kelanjutan ceritanya. penasaraan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Okeee, Lia... Makasih udah mampir baca :D

      Delete
  9. Wah, untuk tempat tidur saya nggak ada "kolong" nya hehehe. salam kenal

    ReplyDelete
  10. Sambungan ceritanya besok y mak,eikeh tunggu nih, penasaran :)

    ReplyDelete
  11. Anak kecil katanya banyak yg suka diliatin makhluk dimensi lain ya Bunda. Serem tapi pengen tau kelanjutannya hihihi

    ReplyDelete
  12. qiqiqqi ... si mbak lagi senang posting ttg horor yak. aku tunggu kelanjutannya ya mbak :)

    ReplyDelete
  13. Aduh syerem. Tapi penasaran....

    ReplyDelete
  14. hiiiiiiih...saya ini penakut tapi kok ya malah penasaran....

    ReplyDelete
  15. Sereeeeem.
    Sy agak penakut dm yg kyk gini. Jd selalu minta dihindarkan dr hal2 spt ini. Takuuut

    ReplyDelete
  16. wuih mak.. merindings di akhir nih
    jadi kepengen cerita mistis juga :D

    ReplyDelete
  17. Ndadak bersambung barang ik mba Wati jadi penasaran sopo to dibalik kain putih itu, mimpi atau kenyataan/

    ReplyDelete
  18. Ya ampun horor banget Mbak kalo bintang tamunya adalah pocongan. >.<
    Pake disambung segala jadi penasaran dehhh :p Aku tungguuuu ^^

    ReplyDelete
  19. aduh ampun mak....hiiiii....aku baca ini sendirian....di dapur....ga ada temannya....(suami d ruang yg lain maksudnya)..hehehe lanjut mak...:-)

    ReplyDelete
  20. baca tengah malem. yg versi dua udah juga. aduh ceritanya sadis bgt mak. ya Alloh semoga kami sekeluarga dilindungi :)

    ReplyDelete
  21. Untung bacana pas siang :D. Meski belum pernah lihay yang begituan, tapi teteap syerem juga >.<

    ReplyDelete
  22. Ga jadi baca malem2, bacanya siang2. Tapi pas lagi sendirian. -____-

    ReplyDelete
  23. huaaaa.....lalu masuk selimut....

    ReplyDelete
  24. ini kok yaaa.. emak-emak pada takut tapi penasaran pingin bacaaaa (akhirnya ketawa ketiwi)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...