Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

31 Mar 2015

UJIAN NASIONAL, MASIH KAH DIPERLUKAN?


Tiga tahun lalu, hari pertama si bungsu di SMP IT PAPB

Hahaiii Moms...
Hari jumat pukul 13.30 WIB, tepatnya tanggal 27 Maret 2015 lalu sebagai wali murid SMP IT PAPB Semarang, saya hadir dalam acara Sosialisasi Ujian Nasional 2015. Ah, napa udah mepet mau ujian, kami baru diundang? Sedangkan dulu, saat si sulung masih sekolah di sini, sosialisasi Unas diadakan pada bulan Desember. Ini nih ceritanya ya Moms...

Pihak sekolah masih menunggu UU yang mengatur pelaksanaan Ujian Nasional. Setelah pergantian menteri dan lainnya, UNAS memang masih menjadi bahan perdebatan. di satu sisi, niatnya Unas itu berfungsi sebagai alat pengukuran dan penilaian hasil akhir penuntasan nilai sekolah siswa. Namun ada efek yang ternyata tidak diingikan. Adanya Unas bikin siswa udah takut duluan sebelum bertanding *eh, menjawab soal yang diujikan.

Ada lagi efek yang bikin banyak siswa mendatangi pihak ketiga yang promo jualan soal bocoran. Hari gini nyari bocoran? duuuh... *ntar pas kerja jangan-jangan bikin bocoran di mana-mana* *sedih*

Intinya sih pihak sekolah masih menanti peraturan pelaksanaan Ujian Nasional, dan ternyata baru diputuskan oleh pementah per tanggal 13 Maret 2015. Melalui proses panjang hingga terkahir pihak Disdik Semarang pun mengirimkan PP yang baru itu ke sekolah-sekolah. Tanpa PP ini, pihak sekolah tidak berani mengundang orang tua/ wali murid dan membicarakan Unas.

Dan pihak sekolah pun mengundang orang tua atau wali murid untuk membahas bersama tentang pelaksanaan UN ini. Kabar gembiranya sih, sekarang UN tidak lagi menjadi tolok ukur kelulusan. Kelulusan seorang siswa diukur melalui nilai akhir rata-rata Raport dari semester I sampai V ditambah dengan nilai Ujian Sekolah.

Yang menggembirakan lagi, pihak sekolah dipersilahkan memilih prosentase pengukuran nilai akhir kelulusan. Di SMP IT PAPB ini  prosentasi yang digunakan adalah Nilai rata-rata raport sebesar 70% dan Nilai Ujian Sekolah sebesar 30%. Nantinya jumlah rata-rata hasil akhir nilai siswa akan dikirim ke Disdik setempat untuk penentuan akhir. Apa sih namanya, saya kok kurang konsen di bagian Kepsek ngomong ini, hihiii...

Trus apa donk gunanya tetap dilaksanakan Ujian Nasional?

Nah, ini nih Moms...

Ujian Nasional itu rencananya bakal digunakan untuk mendapatkan sekolah di jenjang yang lebih tinggi. Jadi, nilai UNAS bakal menjadi penentu bakal diterima di sekolah lanjutan.

Nah, apa sih yang harus dilakukan pihak sekolah agar nilai Unas nya juga tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya?

Nih Kepsek nya lagi pusing gegara anak-anak pada kepedean memancang nilai tinggi, ada yang ingin dapat 10 di mapel Bahasa Inggris *si bungsu nih* Aamiin, moga terwujud.
Ada juga yang ingin mapel Matematika dapat 9, tapi selama ini hasil try out cuma 6 doank, hahaha....
Bingung, mau diaminkan, atau gimanaaa...

Kayaknya sih, anak-anak sedang demam drakor, yang cewek nih, jadi semalaman mantengin si Lee Min Hoo - bener kagak nulisnya, bukan penggila drakor- jadi malas belajar. Ujung-ujungnya mudah lelah dan ngantuk pada pagi harinya di kelas.

Kepsek bahkan cerita tentang beberapa perilaku siswa yang tidur saat di kelas. 
"Saya langsung meminta guru agar segera menindak siswa dan mengajaknya bicara," Tutur pak kepsek yang ramah dan senang diajak konsultasi tentang siswanya.

Ada banyak cerita yang bikin kepsek pusing. Komitmen beliau dan guru-guru di sekolah ini memang patut mendapat acungan jempol. Mereka tidak pernah bersikap keras. Namun melakukan pendekatan persuasif pada siswa. 

Gimana coba, ada beberapa anak suka banget main game, lupa nggak latihan soal matematika, padahal pagi harinya ada try out. Gimana mau dapat hasil bagus kalo nggak serius belajar?!

Jadi, orang tua siswa diundang pihak sekolah, maksudnya agar membantu untuk mengawasi jam belajar di rumah. Nah, saya sih udah mantengin si bungsu kalo malam hari. Kalo dilihat sih dia enjoy belajar. Tapi saya yang suka curiga, mengintip dari dekat. Daaan.... ternyata, dia lagi enjoy bikin animasi di atas kertas. *pengen ditoyor nih anak*

Kalo diomongin sih Naufal bilang iya, tapi seringnya dia konsen nggambar dari pada belajar. Dan saya, sebagai ibunya juga enggan memaksa anak untuk belajar. Memang sih nilai itu penting untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Tapi saya juga nggak mau si anak jadi stress kalo dipaksa untuk belajar.

Tidak seperti si kakak yang serius bila belajar dan akhirnya mendapatkan nilai terbaik pas lulus dari SMP yang sama. Si bungsu ini anak yang super enjoy, hayooo niru siapa ini??? 

Saya sih tak pernah mengharapkan nilai bagus pada anak-anak. Saya justru lebih senang menekankan sisi kreativitas mereka agar lebih terasah. Namun ekspektasi guru-guru di sekolah ini terlanjur tinggi pada si bungsu. Tentu saja gara-gara si kakak yang mendapat nilai tertinggi saat lulus dulu. Milzam masuk tiga besar peraih nilai tertinggi di kecamatan Pedurungan, Semarang.

Jadi saat nilai si bungsu untuk matematika tidak mencapai angka 9, mereka saling membicarakannya. Hahahaaa, ibunya aja santai lho ngadepin hasil try out si bungsu. 

Namun saya tetap meminta si bungsu agar tetap rajin berlatih mengerjakan kisi-kisi semua mapel yang diujikan. Karena hanya itu yang menjadi kewajibannya. Berlatih, belajar dan belajar. Urusan nilai akhir, kita hanya bisa meminta pertolongan Allah Swt sebagai Yang Maha Menentukan.

Oiya, di sekolah ini selalu rutin dilaksanakan Istighotsah sebanyak tujuh kali, tiap dua minggu sekali. Bukan hanya siswa saja, orang tua pun diminta hadir dan mengikuti acara yang biasanya digelar tiap sabtu malam. Di samping itu ada pula program belajar kelompok yang berjumlah enam anak dengan dibimbing seorang guru. Guru pembimbing belajar ini juga yang kelak menjelang Ujian sekolah menjadi petugas yang menghubungi siswa untuk pelaksanaan shalat Tahajud. Nanti akan saya ceritakan dalam artikel tersendiri tentang program Tahajud Call ini.

Dan, acara hari itu selesai tepat saat adzan Ashar berkumandang. Saya tidak langsung pulang, tapi menemui guru wali kelas untuk konsultasi tentang si bungsu. Ternyataaa, tak ada yang perlu dipusingkan dengan perilaku si bungsu di kelas.  Hati emak jadi tenang, hihiii

Terima kasih ya udah mampir baca...

7 comments :

  1. Anakku UN juga tahun ini aku ngga mematok angka berapa tapi aku ingin dia melakukan yg terbaik yg dia bisa diiringi doa tentunya

    ReplyDelete
  2. Waktu aku masih kerja di SD juga dah repot sosialisasi dari bulan Desember. Masih inget, sebagai staf TU jdai bagian yang ikutan rempong ngurusin remeh temeh ni itunya sampai pembagian ijazah. Inget juga omongan pengawas yang kasih arahan sama guru-guru yang ditugasin ngawas. Disuruh pura-pura ga tau aja kalau ada murid yang saling contek. What??? Saya bengong dengernya. -_-

    ReplyDelete
  3. masih ada ya UN kukira dah diapus...

    ReplyDelete
  4. aku tunggu cerita tentang tahajud callnya ya mbak,menarik sepertinya

    ReplyDelete
  5. kalo memang begitu, menurut saya UN dilaksanakan sampai tingkat SLTP saja. utk SLTA ga wajib. bagi yg ingin lanjut ke pendidikan tinggi sila ikut UN. yg ga ya ga usah. jadi ga sia-sia anak belajar tp ujung-ujungnya cuma ga dipakai. bagi yg ga ikut UN kan bisa fokus utk cari kerja atau tempat magang.
    tp kl SD dan SLTP masih wajib supaya nanti kl wajib belajar 12 tahun kita (pemerintah dan masyarakat) sudah siap. lgpula lulusan SLTP kl untuk cari kerja belum cukup umur.

    ReplyDelete
  6. un itu bikin deg-degan juga, ya. Saya masih setahun lagi, nih :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...