Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

8 Feb 2015

DUUH, OPERASI LAGI?



Kesehatan anak-anak itu pasti jadi perhatian utama kita sebagai orang tua. Kalo anak sakit, pengennya sih saya aja yang gantiin. Sebagai ibu, saya sudah berusaha memperhatikan kebersihan tiap ruang di dalam rumah. Begitu pun makanan yang dikonsumsi keluarga kecil saya. Namun saya tak mampu mengantisipasi ketika si sulung mesti menjalani operasi hernia yang kedua. Duuuh, masa iya, si sulung mesti mengalami operasi hernia lagi?


Saya pernah menuliskan kisah operasi hernia si sulung dalam tulisan yang berjudul Mengapa Anak Saya Mesti Operasi, Dokter? Gimana saya dan suami berusaha mencarikan kesembuhan untuk si sulung. Gimana kami mesti memaksa Milzam berpuasa selama 6 jam untuk kepentingan operasi hernia. Pengalaman menemani si sulung ini sejak lama sudah ingin saya bagikan. Agar orang tua tak lagi salah memilih langkah kesembuhan bagi buah hatinya. Karena penyakit itu harus disembuhkan lewat jalur medis.

Pengalaman pertama menemani si sulung operasi hernia, membuat saya kuat dan siap. Saya makin perhatian dengan kondisi tubuh si suluang. Suatu hari saya tak sengaja membaca artikel di sebuah tabloid baru. Ada artikel yang mengupas tentang Hernia. Entah mengapa hati saya berdesir halus. Saya baca sampai tuntas artikel tersebut.

Ada satu kalimat yang tertulis, bila ditemukan hernia sebelah kiri terlebih dulu, bisa saja yang kanan juga bakal muncul. Makdeggg! 

Apa maksud tulisan ini, desah tertahan keluar dari mulut ini. Saya berharap. Doa meluncur dari dalam hati. Semoga tulisan ini tak terjadi pada putra saya. Duuh, belum berselang dua bulan yang lalu si sulung operasi. Masa sekarang harus mengalaminya lagi? 

Namun tetap saja saya tak ingin terlena. Pagi berikutnya, usai si sulung mandi, saya perhatikan dengan cermat tubuh bagian kiri. Tangan saya meraba lembut daerah sekitar perut. Milzam tertawa-tawa, mengira saya menggelitiki perutnya. 

Hati saya berdesir manakala teraba benjolan kecil seperti dulu. Kali ini saya tak begitu panik seperti saat menemukan benjolan yang pertama di sebelah perut kiri dulu. Kali ini saya lebih siap menghadapi kemungkinan operasi hernia Milzam.

Sore sebelumnya saya sudah menunjukkan artikel tentang hernia pada suami. 

"Kita harus siap bila perut sebelah kanan juga belum menutup rongga perutnya, Mas," 

Kami mendiskusikan isi artikel. Kami juga menghubungi dokter yang merawat si sulung dulu. Intinya sih, kami mesti menunggu pagi hari untuk mengecek secara manual kondisi perut si sulung. Memang hernia itu bisa teraba ada pada pagi hari. 

Mengetahui benjolan, kali ini terdeteksi  ukurannya lebih kecil, saya tak mau galau mellow seperti dulu. Saya segera memakaikan baju dan celana yang longgar. Dokter sudah memberitahu saya, apa saja yang mesti dilakukan bila ada benjolan di perut bagian kanan. Saya harus mendaftar kamar operasi. Terlebih dulu saya mengajak si sulung diperiksa Dr. Jhony.

Dr. Jhony menggeleng-nggeleng takjub.

"Baru kali ini saya bakal mengoperasi hernia dua kali pada anak di bawah umur dua tahun."

Dokter tersenyum menenangkan kami. Katanya, operasi kali ini bakal lebih cepat. Karena hernia ditemukan dalam kondisi masih dini. Tidak seperti yang pertama dulu, sudah membesar dan turun ke bagian pelir. 

Saya dan suami berbagi tugas. Saya memberitahu orang tua dan kerabat. Seperti biasa, saya memiliki kewajiban memberitahu kerabat karena hubungan kami yang sangat akrab. Saling menguatkan, saling berbagi kesenangan, sudah menjadi kebiasaan. Doa dan dukungan kerabat sangat berarti.  Kalo saya tak mengabarkan berita ini, bakal menuai protes tak berkesudahan.

Esok paginya, saya sudah memberi tahu si sulung agar tidak meminta susu. Jadwal operasi pukul sepuluh, membuat si sulung mesti puasa mulai jam 3 dinihari. Jadi malamnya Milzam saya kasih susu yang banyak. Kali ini Milzam tak menangis minta susunya. Tambah usia dua bulan dari operasi yang pertama, sepertinya makin membuat si sulung memahami. Dia tidak rewel meminta susu. Kami menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengertinya.

"Adik kan harus dijahit lagi perutnya. Dokter bilang adik nggak boleh minum susu, nanti tumpah kalo mau dijahit."

"Iyaa..."

Sikap Milzam yang kooperatif ini memudahkan kami. Tepat pukul 10 pagi, tubuh Milzam dibawa masuk ke ruang operasi. Kali ini tak ada tarik menarik tubuh si sulung di depan kamar operasi antara saya dengan perawat. Saya melepas tubuh si sulung dengan senyum ikhlas.

Saya sudah siap menerima apapun kondisi yang bakal terjadi kali ini. Sikap pasrah dan tawakal ini menjadi pilihan kami. Allah tak akan meninggalkan hambaNYA. Dia yang memberi penyakit, Dia pula yang bakal menyembuhkan. Hati saya tenang menanti selama proses operasi. Sebagai ibu, saya membantu dokter dengan berdoa. Semoga operasi kali ini berjalan lancar dan berhasil.

Ternyata informasi dari dokter tepat. Tak lebih dari lima belas menit, si sulung sudah selesai menjalani operasi penutupuan rongga perut. Alhamdulillah.

Seperti operasi yang pertama, tak ada obat, tak ada infus yang menempel di tubuh si sulung usai operasi. Bahkan pemulihannya lebih cepat. Menjelang pukul lima sore, kami sudah boleh membawa si sulung pulang ke rumah.

Hikmah dari peristiwa ini adalah, makin eratnya hubungan saya dengan suami. Operasi hernia yang mesti dua kali dialami si sulung, membuat komunikasi kami sebagai orang tua makin terbuka. Cara pandang tentang penyakit dan pengobantannya juga membuat kami satu pendapat. Sebuah modal yang sangat kami butuhkan untuk menghadapi setiap peristiwa dalam keluarga kecil ini.

Hikmah lain dari peristiwa ini adalah membuat kami lebih banyak bersyukur. Di balik setiap musibah, selalu ada tangan-tangan yang terulur siap membantu. Kami tak pernah sendiri menghadapi setiap musibah yang menghadang. Semua itu karena Allah selalu memenuhi permintaan hambaNYA yang mau memanjatkan doa. 

10 comments :

  1. Jempol untuk dirimu dan suami, mak. TFS yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya dan keluarga hanya menjalani takdir Ilahi mbak :)

      Delete
  2. Sama seperti adek sepupu saya, Mak. Tapi saat operasi umurnya lebih muda dari Mas Milzam. Dia didiagnosa dokter kena hernia sejak umur 1 bulan. Itu pertama kalinya berkunjung ke dokter karena demam. Dokter blg harus dioperasi tp menunggu BB ideal dulu. Waktu umur 7 bulan, adek menjalani oprasi *sedih bgt kalo inget itu. Alhamdulillah skrg umur 4 tahun & sehat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh baru sebulan ya, iya bikin sedih kalo ingat dengar diagnosa awal ya. tapi alhamdulillah, hernia nya udah sembuh, kan udah dioperasi. Moga sepupunya selalu diberi kesehatan yaa :)

      Delete
  3. aku pikir hernia gak bisa menyerang anak-anak ya mbak. terima kasih usdha berbagi pengalaman ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hernia bisa kena pada usia berapa pun, mbak,nggak pandang usia. Justru kalo masih kanak-kanak malah lebih ringan dan mudah penanganannya.

      Delete
  4. teringat anak sahabatku, dr bayi di vonis hernia, harus di operasi nunggu sekian tahun dulu, bahkan dah beberapa kali juga mak

    Alhmdllh sekarang udah 10 tahun sehat ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh berapa kali mbak? Kalo anakku inshaa Allah dua kali aja ah, ngeriii

      Delete
  5. Aku deg2an bacanya. Semua putranya sehat selalu. Aamiin.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...