Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

22 Dec 2014

AKU KAN SLALU MERINDUMU



Pagi datang selalu tiba-tiba. Meski aku tahu, subuh telah beranjak sejak tadi. Suara kesibukan pagi pun telah memerangkapku dalam nyanyian rutin.

Sepagi ini aku bahkan sudah menebar kesibukan yang selalu sama setiap hari. Akankah bosan menjeratku? Bisa saja. Andai tak hadir suara Makni yang sering mengingatkanku. Petuahnya tak pernah dengan kentara dinyanyikan. Hingga aku tak mungkin mengelak dari petitih yang santun.


Aku bahkan tak pernah mendengarmu bergunjing. Engkau adalah perempuan langka. Jarang menyebut keburukan seseorang. Hanya canda yang sering kau curahkan.

Duhai, engkau lah ibu yang bukan ibu kandungku. Namun mengapa aku senang sekali berada di sekelilingmu. Menunggumu memotong sayur. Duduk di sisimu menanti masakan yang tak pernah dibuatkan oleh ibu. Masakan sederhana berupa sayur daun ketela. Atau labu kuning yang berubah ujud menjadi sayur lodeh. Yah, ibu bahkan tak pernah memasak sayur seperti yang kaubuat untuk sepupuku. Tak salah kan bila aku selalu ada di sisimu.

Ketika mesti tinggal di tempat kost, engkau tak pernah lupa memperhatikan kesejahteraanku. Dari warung yang kau kelola, selalu ada untuk kau sisihkan untukku. Setiap senin pagi aku harus mampir di warung untuk membawa beberapa bekal dibawa ke tempat kost. Tak boleh ada penolakan. Begitu pun saat aku melakukan perjalanan jauh keluar kota, engkau menyisihkan roti untukku. Bekal makan di jalan.



Bahkan saat menanti kelahiran anak pertamaku, engkau pun hadir bersamaku. Masih seminggu lagi, dan engkau yang mengusulkan agar aku pindah sementara dari rumah. Karena suami sering lembur. Makni yang takut bila aku mengalami kontraksi tanpa ada suami di sisiku saat tengah malam. Aku pun pindah dan numpang tidur di rumah bude Min. Makni tak mengeluh mengapa aku tak memilih rumahnya. Beliau hanya tersenyum menyetujui pilihanku. 

Jadi, aku tidur di rumah bude Min. Bangun pagi aku jalan-jalan ditemani oleh Makni. Sarapan pun sudah disediakan oleh Makndut, adik bungsu ibuku. Tiga rumah milik bude dan bulikku ini memang berdampingan. Mereka adalah saudara kandung dan ipar ibuku.
Hari kelahiran tiba. Milzam pasti senang bila bisa bicara. Kelahirannya ditunggui oleh tiga eyang yang menyayangi bundanya. Di samping ibu mertua dan suamiku, serta beberapa sepupu. Ruang tunggu rumah sakit sudah mirip ruang keluarga. Semua berkumpul dan menemaniku menanti kelahiran Milzam.

Saat seorang sepupu dari keluarga bapak ada yang menikah, Makni pun mengajukan diri menemaniku.
Kata orang tua jaman dulu, ibu yang habis melahirkan itu tidak boleh tidur sebelum waktu Dzuhur tiba. Para tetua kami sepertinya tahu, aku adalah orang yang mudah mengantuk. Jadi, Makni hadir di sisiku. Karena ibu dan seluruh keluargaku, termasuk suami harus hadir di resepsi sepupu.

Makni yang datang membawakan makanan kesukaan, aku sambut penuh antusias. Bahagia banget bisa berbincang dengan Makni. Apalagi tangannya ringan membantuku merawat Milzam. Pijatan sayang untuk sulungku terusap penuh makna.

Kini, sulungku telah berusia 19 tahun. Dan telah lima tahun Makni berpulang ke Rahmatullah. 

Masih teringat saat kabar itu mampir di telingaku. Tanpa sakit. Allah telah memanggilmu saat tengah bermimpi. Nangis tak mampu menyembuhkan luka hatiku. Keinginan ikut memandikanmu, tak tersalurkan karena si bungsu tengah sakit.

Jadi, aku datang saat dirimu selesai dikafani. Mataku berkabut saat kerudung putih yang menyelubungi wajahmu, aku buka. Hanya doa yang mampu aku lantunkan. Semoga Allah Swt mengampuni dosamu, melapangkan kuburmu dan menempatkanmu bersama orang-orang yang mulia. 

Untukmu, Makni sayang...

Aku yang selalu merindum...

Semarang, 22 Desember 2014




2 comments :

  1. Semoga Makni mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, aamiin

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...