Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

11 Jan 2014

MANASIK HAJI GRATIS



Cerita kedua....                 

            Dua tahun setelah mendaftar haji, aku diberitahu tempat bimbingan manasik oleh sepupuku. Yang menyenangkan adalah tempat ini tak menarik iuran alias gratis. Tanpa mendaftar, tak ada ketentuan seperti harus datang rutin, tak perlu memikirkan insentif untuk ustadznya. Yang penting datang, duduk, mendengarkan materi sang ustadz.
            Bimbingan manasik ini diadakan setiap minggu malam usai shalat Isya’. Ada dua sesi pelajaran yang selalu aku ikuti. Sesi pertama adalah belajar membaca Quran dengan memperhatikan tajwid. Jadi kami belajar kembali IQRO’ dari jilid 1 – 6. Serasa kembali ke masa anak-anak. Maksud diadakannya belajar tajwid ini tentu agar setiap jemaah haji bisa membaca setiap doa dan bacaan surat-surat dalam Al Quran dengan benar.  Malu dong bila berangkat haji tapi bacaannya tidak tartil, tidak memperhatikan tajwid.
            Sesi dua adalah bimbingan manasik haji. Ustadz memberikan materi dengan gaya santai. Beliau membebaskan cara duduk, boleh sambil sandaran, boleh juga berselonjor kaki. Karena tempat bimbingan di dalam masjid, tentu saja suasananya seperti mengaji di surau. Dengan duduk lesehan di belakang meja.
            Materi yang diajarkan tidak hanya urutan proses haji atau fiqih pelaksanaan rukun haji. Ustadz memberikan materi sejak jemaah haji masih di tanah air hingga pulang kembali dari tanah suci.
            Setiap pertemuan, beliau selalu memberikan PR hafalan doa-doa. Seperti bacaan doa untuk Thawaf putaran I. Kelak dua minggu kemudian, kami akan dites satu persatu. Jangan takut bila hafalan belum lancar. Tak ada nilai jelek atau cap buruk bagi peserta bimbingan, toh tes ini untuk kepentingan jemaah sendiri.
            Saat aku atau suami cerita tentang bimbingan manasik ini, ada juga ternyata dari kenalan dan tetangga yang melontarkan komentar tentang kegiatan ini. Beliau sudah melaksanakan ibadah haji. Dulu mereka tidak menghafal doa-doa yang disarankan dalam buku panduan pelaksanaan haji ini. Karena bila menghafal semua doa di dalamnya, memang cukup sulit. Di samping faktor umur, tentu saja kemampuan tiap orang dalam hafalan berbeda.
            Namun seperti yang dikatakan ustadz kami, tingkatan ibadah setiap orang memang tidak sama. Begitu pun orang yang berangkat haji. Tidak semua orang yang akan menunaikan ibadah haji memiliki kesempatan dalam hal waktu, tenaga dan pikiran serta materi untuk mengikuti bimbingan manasik yang sempurna. Tapi kalau kita ingin mencari kesempurnaan dalam beribadah haji, tentu harus melakukan persiapan yang matang.
            Beliau mengibaratkan perjalanan haji dengan orang yang akan melakukan perjalanan jauh. Bila jalan yang ditempuh masih berupa hutan belantara. Tentu orang ini harus membabat pohon-pohon. Kemudian meratakannya dengan batu gunung, kricak, adonan untuk mengecor hingga hutan itu berubah menjadi jalan yang mulus. Dilanjutkan dengan mencari transportasi untuk mencapai tempat tujuan.
            Tapi bila persiapan yang dilakukan baru sebatas menebang pohon, tentu kualitas perjalanan akan berbeda.  Perjalanan memerlukan waktu yang lebih lama. Karena jalan yang tidak mulus.
Nah, berangkat haji pun tidak asal siap-siap uang dan tenaga. Dibutuhkan persiapan materi tentang pelaksanaan setiap rukun dan sunnah haji. Maksudnya agar setiap kegiatan beribadah bisa dilaksanakan dengan tingkat pengetahuan yang cukup. Menjalankan ibadah yang diiringi dengan pengetahuan agama yang lebih baik tentu berbeda nilainya di mata Allah Swt. Apalagi dalam salah satu ayat disebutkan, carilah ilmu sampai ke negeri china. Maksudnya tentu saja agar sebagai manusia jangan berhenti belajar meski harus pergi ke tempat jauh.
Tentu yang diinginkan setiap jemaah adalah makbul doanya yang dipanjatkan di tanah suci. Sudah bayar mahal untuk berangkat haji kalau di sana cuma jalan-jalan dan belanja, dan tidak beribadah dengan benar kan sia-sia?
            Dengan mengikuti bimbingan manasik ini, kami memiliki waktu yang cukup panjang (40 kali pertemuan) untuk mempelajari materi seputar haji. Bandingkan dengan manasik yang diadakan oleh Depag, yang hanya 11 kali pertemuan. Itupun dengan ribuan calon jemaah haji.   

No comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...